Pangeran Notokusumo adalah putra Sultan Hamengku Buwono I dari ibu bernama R.A. Srenggorowati. Pangeran Notokusumo lahir pada tanggal 21 Maret 1764 dan wafat 19 Desember 1829. Diantara para pangeran putra Sultan HB I, pangeran Notokusumo yang paling dekat dengan ayahnya melebihi pangeran ngabehi (putra sulung sultan HB I). Ia dipercaya mengelola berbagai senjata dan korps prajurit trunokinanti. Pangeran juga mendampingi Sultan pada sebuah peristiwa penting di Kesultanan Yogyakarta ketika Sultan menerima kunjungan gubernur dan direktur pantai timur laut Jawa. Kecintaan terhadap ayahnya tidak bisa ditutupi, ketika Sultan HB I sakit, pangeran Notokusumo yang paling sering berada dekat dengan ayahandanya. Ia pun mencarikan “orang pintar” untuk mengobati ayahandanya.

Pangeran Notokusumo tekun mempelajari kesusatraan jawa, politik, dan ketatanegaraan. Para gurunya adalah Pangeran Diponegoro, Raden Tumenggung Notoyudo, dan Patih Danurejo. Merekapun mengajari pangeran bertingkah santun supaya mendapat simpati rakyat. Pangeran Notokusumo dikenal oleh lingkungan terdekatnya sebagai sosok yang berkepribadian mengensankan, cerdas, dan berwawasan luas. Ayahnya Sultan HB I sangat menyayanginya, bahkan pernah berpikiran untuk mewariskan kedudukannya kepada putranya. Bangsawan dengan kepribadian seperti itulah yang memang diperlukan untuk kelangsungan kesultanan. John Crawfrud dan Raffles bahkan sangat kagum atas wawasan Pangeran Notokusumo.

Pangeran Notokusumo bersama putranya Notodiningrat pernah mengalami penderitaan semasa hidupnya. Mereka didakwa terlibat dalam pembangkangan yang dilakukan oleh Ronggo Prawirodirjo terhadap kekuasaan gubernur jenderal Daendels. Mereka diperlakukan bagai seorang penjahat oleh Belanda selama menjalani hukuman. Berbagai upaya pembunuhan meninggalkan bekas luka yang dalam bagi Pangeran Notokusumo dan Notodiningrat.

Pada 16 Desember 1811, Pangeran Notokusumo dikembalikan ke Jogja dari Surabaya oleh pemerintah Inggris. Pada saat itu Raffles sudah memahami dengan baik situasi politik yang berkembang di keraton Yogyakarta. Sebagai seorang yang mempunyai watak ksatria, Pangeran Notokusumo merasa sangat berhutang budi kepada Raffles dan wajib melunasi karena Raffleslah yang membebaskan dari tahanan/ hukuman mati.

Pangeran Notokusumo bekerjasama dengan Raffles dengan menjadi penengah antara pemerintah Ingris dan Sultan HB II. Ia memainkan peran ganda menjadi orang kepercayaan Raffles dan menyelamatkan trah Sultan HB I dan semua kerabatnya dari kemusnahan dengan melunakkan hati Sultan HB II sehingga dapat mengurangi tindakan brutal pasukan Inggris terhadap keraton dan terselamatkannya nyawa para bangsawan kasultanan Yogyakarta penghinaan yang berlebihan dari pasukan inggris. Tindakan tersebut diapresiasi oleh Raffles dengan memberikan penghargaan berupa pengangkatan dirinya menjadi Pangeran Amardika dengan tanah seluas 4000 Cacah. Setahun kemudian berdirilah Kadipaten Pakualaman. Ia dikukuhkan sebagai KGPA Paku Alam I yang berdiri sendiri, tidak di bawah kesultanan Yogyakarta tapi bertanggungjawab langsung pada pemerintah Kolonial.

Sumber: Murdiyastomo, HY. Agus, dkk. 2015. Pangeran Notokusumo: Hadeging Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY.

logo  museum  Puro PakualamanMuseum Puro Pakualaman terletak di Jl. Sultan Agung, Kompleks Puro Pakualaman, Kota Yogyakarta berada tidak jauh dari lokasi wisata yang menjadi tujuan banyak orang luar kota, Malioboro. Museum Puro Pakualaman merupakan salah satu museum khusus yang menggambarkan budaya dan sistem pemerintahan Pakualaman. Museum ini berada di bawah naungan Bebadan Museum Puro Pakualaman dan diresmikan pada tanggal 29 Januari 1981. Bangunan yang kini menjadi museum, dulunya adalah sekolah SR dan SMP.

Museum Puro Pakualaman terletak di bagian sayap timur. Bila kamu ke sini, kamu terlebih dahulu akan masuk melewati Regol yang di sebut Danawara (pintu gerbang) yang di bagian atasnya berhiaskan lambang mahkota Praja Pakualaman dengan ornamen tumbuh-tumbuhan. Hiasan lambang tersebut dilengkapi dengan tahun pembuatannya yaitu pada tanggal 7 Agustus 1884 pada masa pemerintahan Paku Alam V. Di bawah tanggal terdapat tulisan beraksara dan berbahasa Jawa: Wiworo Kusumo Winayang Reka, semboyan yang berarti pengayoman, keadilan, dan kebijaksanaan.

KOLEKSI
Museum Puro Pakualaman menyimpan banyak koleksi bersejarah. Terdiri dari atribut keprabon raja, silsilah, foto-foto, busana, dan berbagai senjata. Koleksi-koleksi yang berada di Museum Puro Pakualaman hampir semuanya adalah koleksi asli dan benar-benar pernah dipakai. Museum ini memang dibangun pada masa Paku Alam V sehingga banyak koleksi beliau yang dipamerkan.

Museum menempati tiga galeri masing-masing berukuran 8×14 m2. Galeri pertama kita akan disambut dengan bentangan silsilah nabi adam yang panjangnya 13,5 meter, karena tidak cukup maka digulung di bagian atasnya. Silsilah nabi adam merupakan koleksi masterpiece (koleksi yang langka dan unik). Selain itu terdapat foto-foto raja Paku Alam II hingga VIII, silsilah raja penguasa pakualaman, silsilah raja mataram, meja tulis duduk Paku Alam V, singgasana raja Paku Alam VII, rebab kuno Kyai Tandhasih, dan keris berukuran besar buatan insinyur Belanda.

Di galeri dua terdapat kontrak-kontrak politik dengan Inggris, peralatan memasak jaman Paku Alam V, jodhang, pakaian raja dan permaisuri, pakaian pangeran, pakaian anak cucu raja, pakaian prajurit pakualaman, pakaian tari, properti tari, berbagai macam tombak, senjata VOC, senjata tiga jaman kolonial (Belanda, Inggris, Jepang), trisula, dan keris pemberian dari kerajaan Klungkung Bali.

Galeri tiga pada awalnya terdapat lima kerata yaitu empat kereta kencana: Kyai Manik Kumolo, Nyai Roro Kumenyar, Kyai Manik brojo, Kyai Brajanala, dan satu kereta Labuhan. Namun, kini hanya ada satu kereta labuhan saja, karena empat kereta kencana sudah diletakan di pendopo. Di ruang ini juga terdapat peta wilayah kekuasaan Pakualaman, foto-foto ketika labuhan di pantai Glagah, foto raja-raja Mataran, dan foto saat jamasan keris.

JAM BERKUNJUNG
Museum Puro Pakualaman buka dari hari Senin-Kamis mulai pukul 09.00 sampai 15.00, Jumat dan Sabtu 09.00 sampai 12.00. Hari Minggu dan Tanggal Merah tutup. Tiket masuk ke museum ini gratis/ sukarela.

Penulis adalah edukator di Museum Puro Pakualaman. Berbagai informasi diperoleh dari berbagai sumber saat edukator bertugas.

keep looking »