20161125_101624
Tak ada habisnya mengunjungi lokasi wisata di Jogja. Salah satu destinasi Wisata yang indah panoramanya adalah Kebun Buah Mangunan yang terletak di kecamatan Dlingo, Bantul. Hanya dengan 5000 rupiah kamu bisa menikmati suasana perbukitan, lembah dan kelok sungai, serta kabut (bila kamu datang pagi hari).

Sayangnya, kita belum bisa merasakan sensasi berada di negeri atas awan (julukan lokasi wisata ini) karena datang kesiangan. Tapi justru kita bisa melihat pemandangan dengan jelas tanpa ada halangan kabut. Sungguh menyegarkan mata dengan suasana hijau membuat kami terlepas dari penat setelah lelah beraktivitas.

Menuju kawasan wisata ini kalian akan disuguhkan pemandangan yang tak kalah indah. Jalan yang menanjak dan berkelok akan kalian jumpai. Paling enak kalo kalian naik motor dengan orang tersayang, pastinya akan berkesan banget. Dibonceng rasanya bikin ngantuk diterpa angin ^_^ tapi kalo di depan jangan ngantuk ya! Oh ya jangan lupa kalo ke sini sekalian ke hutan pinus, karena lokasinya g jauh, sekitar 10 menit. Hutan pinus g kalah bagus, di pos berikutnya akan kuceritakan.

Pangeran Notokusumo

November 10, 2016 | Pengetahuan Umum  |  1 Comment

Pangeran Notokusumo adalah putra Sultan Hamengku Buwono I dari ibu bernama R.A. Srenggorowati. Pangeran Notokusumo lahir pada tanggal 21 Maret 1764 dan wafat 19 Desember 1829. Diantara para pangeran putra Sultan HB I, pangeran Notokusumo yang paling dekat dengan ayahnya melebihi pangeran ngabehi (putra sulung sultan HB I). Ia dipercaya mengelola berbagai senjata dan korps prajurit trunokinanti. Pangeran juga mendampingi Sultan pada sebuah peristiwa penting di Kesultanan Yogyakarta ketika Sultan menerima kunjungan gubernur dan direktur pantai timur laut Jawa. Kecintaan terhadap ayahnya tidak bisa ditutupi, ketika Sultan HB I sakit, pangeran Notokusumo yang paling sering berada dekat dengan ayahandanya. Ia pun mencarikan ÔÇťorang pintar” untuk mengobati ayahandanya.

Pangeran Notokusumo tekun mempelajari kesusatraan jawa, politik, dan ketatanegaraan. Para gurunya adalah Pangeran Diponegoro, Raden Tumenggung Notoyudo, dan Patih Danurejo. Merekapun mengajari pangeran bertingkah santun supaya mendapat simpati rakyat. Pangeran Notokusumo dikenal oleh lingkungan terdekatnya sebagai sosok yang berkepribadian mengensankan, cerdas, dan berwawasan luas. Ayahnya Sultan HB I sangat menyayanginya, bahkan pernah berpikiran untuk mewariskan kedudukannya kepada putranya. Bangsawan dengan kepribadian seperti itulah yang memang diperlukan untuk kelangsungan kesultanan. John Crawfrud dan Raffles bahkan sangat kagum atas wawasan Pangeran Notokusumo.

Pangeran Notokusumo bersama putranya Notodiningrat pernah mengalami penderitaan semasa hidupnya. Mereka didakwa terlibat dalam pembangkangan yang dilakukan oleh Ronggo Prawirodirjo terhadap kekuasaan gubernur jenderal Daendels. Mereka diperlakukan bagai seorang penjahat oleh Belanda selama menjalani hukuman. Berbagai upaya pembunuhan meninggalkan bekas luka yang dalam bagi Pangeran Notokusumo dan Notodiningrat.

Pada 16 Desember 1811, Pangeran Notokusumo dikembalikan ke Jogja dari Surabaya oleh pemerintah Inggris. Pada saat itu Raffles sudah memahami dengan baik situasi politik yang berkembang di keraton Yogyakarta. Sebagai seorang yang mempunyai watak ksatria, Pangeran Notokusumo merasa sangat berhutang budi kepada Raffles dan wajib melunasi karena Raffleslah yang membebaskan dari tahanan/ hukuman mati.

Pangeran Notokusumo bekerjasama dengan Raffles dengan menjadi penengah antara pemerintah Ingris dan Sultan HB II. Ia memainkan peran ganda menjadi orang kepercayaan Raffles dan menyelamatkan trah Sultan HB I dan semua kerabatnya dari kemusnahan dengan melunakkan hati Sultan HB II sehingga dapat mengurangi tindakan brutal pasukan Inggris terhadap keraton dan terselamatkannya nyawa para bangsawan kasultanan Yogyakarta penghinaan yang berlebihan dari pasukan inggris. Tindakan tersebut diapresiasi oleh Raffles dengan memberikan penghargaan berupa pengangkatan dirinya menjadi Pangeran Amardika dengan tanah seluas 4000 Cacah. Setahun kemudian berdirilah Kadipaten Pakualaman. Ia dikukuhkan sebagai KGPA Paku Alam I yang berdiri sendiri, tidak di bawah kesultanan Yogyakarta tapi bertanggungjawab langsung pada pemerintah Kolonial.

Sumber: Murdiyastomo, HY. Agus, dkk. 2015. Pangeran Notokusumo: Hadeging Kadipaten Pakualaman. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan DIY.

keep looking »