Ajisaka sebagai tokoh mitologis di masyarakat Jawa merupakan putra Prabu Iswaka (Bathara Anggajali) dan Dewi Sakha. Tokoh Ajisaka menduduki tempat utama dan terekam didalam sejumlah kitab. Nama lain Ajisaka dalam kitab-kitab tersebut  antara lain Isak, Prabu Isake, Sri Maharaja Wisaka, Tupangku Mudikbrata. Kehadiran tokoh kebudayaaan dan spiritual Ajisaka  dikaitkan dengan kolonialisasi (pengisian) pulau Jawa maupun terciptanya huruf Jawa. Cerita mengenai kolonialisasi pulau Jawa  terdapat dalam Serat Purwapada, Serat Ajidarma-Ajinirmala, Serat Jangka Jayabaya dan Primbon Pusaka Jawa sedangkan yang menceritakan tentang terciptanya huruf Jawa antara lain Serat Ajisaka, Babad Prambanan dan berbagai legenda yang hidup didalam masyarakat daerah Tengger maupun pulau Bawean. Dalam Serat Pustakaraja dikatakan bahwa Ajisaka sebagai “pertapa pengembara” pergi ke tanah Jawa sebanyak tiga kali. Kedatangan Ajisaka yang ketiga kalinya ini dapat mengalahkan Dewatacengkar.

Ajisaka, pada jaman dahulu hidup di Pulau Majethi sebagai seorang satria tampan. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dansakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, yang bernama Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya (Ajisaka), sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Ajisaka adalah orang suku Sakya, suku Sakya adalah suku yang telah berperadaban, telah mengenal sastra, budaya birokrasi dan spiritual dan merupakan pengikut Sidharta Gotama / pengikut agama Budha. Suku Sakya telah menetapkan tahun caka dan membuat kamus serta menyusun bahasa dari bahasa Pali turun ke bahasa Dewa Nagari yang kemudian digubah dan dikembangkan kedalam bahasa Jawa menjadi huruf Pallawa. Selanjutnya turun menjadi bahasa Jawi (Jawa Kuno), kemudian menjadi 20 huruf alphabet / huruf  pasif dan delapan (8) huruf hidup.

Dalam kisah Ajisaka  diceritakan bahwa Kerajaan Medhangkamulan di Pulau Jawa pernah diperintah oleh seorang raja lalim bernama Prabu Dewatacengkar. Dewatacengkar adalah putra Raden Sindhula. Sindhula adalah putra Sri Watugunung, raja Gilingwesi. Dewatacengkar ini adalah seorang raja yang suka makan daging manusia yang dicampurkan ke dalam masakan yang dihidangkan.  hal tersebut dikarenakan ia memikul akibat kutuk yang diucapkan Bathara Wisnu kepada Sindhula, bahwa dia pun akan mendapat malu karena salah seorang keturunannya makan daging manusia. Kegemaran Sang Raja tersebut sudah tentu berefek buruk kepada rakyatnya yang perlahan-lahan menyusut akibat dimangsa olehnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, Sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.
Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang Prabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Suatu hari setelah Ajisaka dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulau Majethi untuk menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Rupanya Ajisaka telah lupa akan perintahnya bahwa keris tersebut harus dirinya sendiri yang mengambilnya. Setelah tibaa di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas. Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu. Ketika Ajisaka diberitahu akan peristiwa itu, ia mengucapkan kata-kata Ha na ca ra ka da ta saw a la, pa dha ja ya nya, ma gab a tha nga yang artinya ada abdi-abdi yang trerlibat dalam perkelahian, dan yang telah menemui ajalnya oleh karena mereka sama kuatnya. Adapun yang mengartikan ca-ra-ka adalah memuliakan, tanpa adanya ca-ra-ka, tentu pula hana-ne tidak akan disebut Hana. Sementara makna da-ta-sa-wa-la dapat dijelaskan maknanya  adalah terus-menerus memancarkan kasih, mencermati dan meliputi terhadap seluruh kehidupan.

Manusia diciptakan bukan tanpa rencana, namun dengan keinginan dan tujuan yang nyata dan pasti. Demikian juga seluruh makhluk hidup di dunia pasti terkena keterbatasan dan pembatasan, seperti halnya sakit dan kematian. Namun selain itu, juga melekat dalam dirinya kelebihan satu dari yang lain, saling ketergantungan, lebih melebihi dan saling hidup-menghidupi. Baik dalam rupa, wujud, warna dan sosoknya, manusia dapat dikatakan sempurna tiada yang melebihi. Kelahiran hidup manusia, merupakan wujud dari sukma, yang terbentuk dari sari-pati. Oleh sebab itu, manusia mampu mengkaji dan menelusuri, menggali dan mencari serta meyakini dan mengimani adanya, sebab sukma sejati manusia itu berasal dari Sana. Selanjutnya pa-dha-ja-ya-nya, maknanya bahwa apa pun dan siapa pun tidak akan dapat hidup sendiri, sebab ia akan senantiasa menjalani hidup dan kehidupan bersama, sebagaimana keniscayaan fitrahnya. Dalam kehidupan manusia selalu saling pengaruh mempengaruhi. Selain juga punya ketergantungan satu sama lain. Begitu juga hidup manusia, bahwa perangkat badaning manungsa tidak mungkin secara parsial dapat hidup sendiri-sendiri.

Dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala, kedatangan Ajisaka pertama kali di tanah Jawa yaitu di gunung Kendheng. Disana ia mendapatkan berbagai ajaran dari para dewa. Setahun setelah kedatangan Ajisaka, terjadi wabah penyakit yang sangat mengerikan dan menyebabkan dari 20.000 keluarga hanya tinggal 20 keluarga saja. Sedangkan yang lainnya binasa karena keangkeran pulau Jawa. Setelah kejadian itu, Ajisaka kemudian kembali ke Rum dan menceritakan hasil perjalanannya di pulau Jawa kepada Sultan Algabah. Kemudian Sultan Algabah memanggil para pendeta dan pertapa untuk mengisi manusia kembali atas pulau Jawa dengan memasang penangkal terlebih dahulu. Sultan Algabah kemudian menetapkan Ajisaka dan Molana Ngali Samsujen bersama para pendeta dan pertapa kembali ke Jawa untuk memasang penangkal. Penangkal tersebut kemudian dipasang di lima (5) tempat, yakni di sebelah utara, selatan, barat, timur dan tengah (gunung Tidar, tanah Kedhu). Pemasangan penangkal tersebut membuahkan hasil terbukti dengan melarikan dirinya para hantu penghuni tanah Jawa dengan cara masuk ke laut karena mereka merasa kepanasan dan kesakitan. Setelah keadaan tenang, utusan dari Rum datang untuk memanggil kembali Jaka Sangkala untuk menyelesaikan penyusunan Serat Cakrawati dan Serat Paliprawa untuk menjadi pegangan bagi orang Jawa.

Dalam Serat Ajinirmala diceritakan bahwa Ajisaka (Jaka Sangkala) membuka hutan di gunung Alaulu. Disana ia juga mendapatkan berbagai pelajaran dari para dewa. Ajisaka sebagai dewasisya menerima pelajaran-pelajaran gaib serta mantra tentang darma dan kesucian jiwa yang dituangkan dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala. Pelajaran-pelajaran gaib para dewa kepada Jaka Sangkala (Ajisaka) dalam serat Ajidarma diantaranya diberikan oleh Empu Ramadi, Sang Hyang Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, Sang Hyang Kamajaya.  Sedangkan pelajaran-pelajaran gaib para dewa kepada Jaka Sangkala (Ajisaka) dalam Serat Ajinirmala diantaranya diberikan oleh Sang Hyang Wenang, Sang Hyang Ening, Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Pramesti Guru, Sang Hyang Endra, Sang Hyang Sambo, Sang Hyang Brahma, Sang Hyang Bayu, Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Kala, Sang Hyang Kamajaya. Setelah itu Jaka Sangkala ke gunung Kombang dan mengubah namanya menjadi gunung Alaulu. Kmudian Jaka Sangkala pergi ke gunung Pringgendani bersama keempat saudaranya, disana mereka disambut dengan keempat raksasa yang mengamuk. Raksasa tersebut kemudian menjelma menjadi dewa dan memberikan berbagai macam ilmu kesaktian kepada Jaka Sangkala. Jaka sangkala tinggal beberapa waktu di gunung Pringgendani sampai Seh Molana Ngali Samsujen yang mengemban perintah dari Sultan Algabah memanggilnya untuk kembali ke Rum.

Nama-nama waktu (hari, bulan, tahun dan windu) Jawa dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala terdapat pada bagian Serat Ajidarma. Dikemukakan dalam Serat Ajidarma bahwa untuk hari Jawa terdapat tujuh (7) penamaan, lima (5) nama pancarawa (pasaran) Jawa, duabelas (12) nama-nama bulan Jawa, enampuluh(60) nama-nama tahun Jawa dan sepuluh(10) nama-nama windu Jawa. Nama-nama bulan Jawa sering dikaitkan dengan masalah perbintangan yang menentukan pengaturan musim (pranata mangsa), yang oleh petani dipergunakan sebagai pedoman menanam padi.musim tersebut berjumlah duabelas (12). Penamaan bulan-bulan Jawa Kuno dengan bulan-bulan Jawa versi Serat Ajidarama–Ajinirmala terdapat sedikit perbedaan  dalam pengucapan dan penulisannya. Penciptaan tahun dan windu Jawa oleh Jaka Sangkala yang menekankan pada pengetahuan Jawa dimaksudkan untuk dapat menyakinkan hukum Jawa dan Arab. Sejak dahulu pengetahuan Jawa tersebut banyak mengandung kebenaran. Walaupun demikian Jaka Sangkala tidak henti-hentinya berusaha menghubungkan pengetahuan Jawa degan Arab. Munculnya tahun dan windu Jawa dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala dapat dijadikan dasar landasan bagi pemahaman terhadap karya-karya R. Ng. Ranggawarsita.

Kisah Ajisaka bagi sebagian besar kalangan orang Jawa sering dianggap sebagai salah satu unsur dalam pembentukan identitas orang Jawa. Kisah ini telah melegenda bagi masyarakat Jawa dan sering dianggap sebagai kisah historis. Mitos Ajisaka ditempatkan sebagai penjelasan adanya proses Indianisasi di Tanah Jawa dan sekaligus pembudayaan orang Jawa dengan mengenal bentuk tulisan baru.

Kenyataan bahwa kisah Ajisaka telah merasuk menjadi bagian dari jati diri Jawa, pada hakikatnya merupakan sebuah bentuk keanehan dan penyimpangan. Kisah Ajisaka ini sebenarnya merupakan produk imajinatif karya Pemerintah Kolonial Belanda. Dalam cerita ini dapat dijelaskan sejumlah kepentingan bersifat hegemonik dari penjajahan atas bangsa Indonesia. Dalam penelitiannya yang telah dibukukan “Imajeri India, Studi Tanda dalam Wacana” menjelaskan bahwa melalui wacana Ajisaka, Belanda tidak saja berhasil menjelaskan terjadinya Indianisasi (faktor India) yang telah merasuk ke dalam kebudayaan Jawa. Melainkan juga berhasil membangun dunia imajiner bangsa Indonesia. Publikasi dunia imaji India tersebut terus dilakukan oleh para peneliti Belanda, dengan menempatkan India sebagai bangsa superior berhadap-hadapan dengan bangsa Jawa yang inferior. Wacana Ajisaka dikembangkan oleh Belanda dengan menempatkan penduduk pribumi di Nusantara sebagai bangsa terjajah, primitif, biadab, dan tidak berbudaya berhadapan dengan India yang telah memiliki budaya lebih tinggi.

Buku ini ditulis oleh Anung Tedjowirawan seorang yang telah banyak menulis tulisan-tulisan ilmiah seperti buku Menelusuri Kebesaran Pujangga R.Ng Ranggawarsita Melalui Karya-karya Ciptaannya (Sebuah Bunga Rampai 1) yang merupakan kumpulan artikel terbaiknya. Ia juga menjadi dosen di FIB UGM jurusan sastra nusantara dan sebagai narasumber di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta pada acara “Sastra dan Budaya Jawa” dan “Pendapa”.

Dalam buku ini tidak hanya diceritakan tokoh Ajisaka tetapi juga tokoh lain seperti Dewatacengkar. Buku ini juga menerangkan secara detail tentang serat Ajidarma-Ajinirmala yang merupakan sebuah kitab yang berisikan ilmu pengetahuan suci, penuh petunjuk darma, agar manusia dapat membentengi dirinya sehingga selamat dan terbebas dari pengaruh perbuatan jahat serta dari segi bahasa (ragam bahasa), penulis dan isi yang diambil dari kitab Musarar dari Rum, selain itu juga diterangkan nama-nama waktu (hari, bulan, tahun dan windu) Jawa yang ada didalam Serat Ajidarma-Ajinirmala. Serat Ajidarma-Ajinirmala juga menerangakan asal-usul manusia yang pertama kali mendiami pulau Jawa serta menggambarkan peristiwa-peristiwa menggetarkan yang dialami mereka diawal kehidupannya di pulau Jawa. Hal-hal tersebut dapat menambah pengetahuan kepada pembacanya, tidak hanya cerita Ajisaka sebagai dewasisya saja tetapi juga mendapat pengetahuan yang lain.

Perbandingan cerita Ajisaka didalam serat Ajidarma-Ajinirmala dengan serat-serat yang lain dalam buku ini walaupun menunjukan sedikit perbedaan tetapi masih berkaitan sehingga pembaca dapat memberikan penafsiran mengenai kebenaran cerita.

Sumber: Ajisaka Sebagai Dewasisya di dalam Serat Ajidarma-Ajinirmala Karya Pujangga R.Ng Ranggawarsita (Peranannya dalam Kolonialisasi Pulau Jawa) oleh Anung Tedjowirawan



2 Comments so far

  1.    Oscar Bent on January 25, 2016 7:14 pm      Reply

    I’m really impressed with your writing skills as well as with the layout on your blog. Is this a paid theme or did you modify it yourself? Anyway keep up the nice quality writing, it’s rare to see a great blog like this one today.

  2.    Outbound Malang on July 28, 2016 10:08 am      Reply

    interesting written… really enjoy reading your article… always success for you…

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind