Satuan-satuan Gramatik

October 30, 2010 | 8 Comments

Satuan Gramatik
Satuan gramatik adalah satuan-satuan yang mengandung arti, baik arti leksikal maupun gramatik. Satuan gramatik dapat berupa:
– morfem misalnya ber-, ke-an, maha-, jalan, rumah.
– kata misalnya rumah, berkunjung, mereka, dari.
– frase misalnya akan datang, ke rumah teman, sudah sehat, usaha yang baik.
– klausa misalnya ia sedang berkunjung ke rumah teman, usaha itu sangat baik.
– kalimat misalnya orang tuanya sudah sehat.
– wacana.

Bentuk Tunggal dan Bentuk Kompleks
Satuan gramatik yang tidak terdiri dari satuan yang lebih kecil lagi disebut bentuk tunggal misalnya ber-, meN-, baju, beli, sedangkan satuan gramatik yang terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil lagi disebut bentuk kompleks misalnya ia membeli baju baru.

Satuan Gramatik Bebas dan Satuan Gramatik Terikat
Semua satuan gramatik yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan yang biasa disebut satuan gramatik bebas misalnya mereka, baju, televisi, sedangkan satuan yang tidak dapat berdiri sendiri dalam tuturan yang biasa disebut satuan terikat misalnya ter-, meN-, per, -kan. Satuan tersebut bersama satuan lain membentuk satuan kata, misalnya ber- bersama dengan baju membentuk kata berbaju. Dilihat dari sudut arti, satuan-satuan tersebut tidak memiliki arti leksikal namun memiliki arti gramatik atau makna, sebagai akibat pertemuannya dengan satuan lain. Satuan-satuan seperti ber-, ter, meN- termasuk kedalam golongan afiks, sedangkan satuan-satuan ku, mu, nya, kau, dan isme termasuk kedalam golongan klitik karena memiliki arti leksikal. Klitik dibedakan menjadi dua golongan yaitu proklitik dan enklitik, proklitik terletak dimuka misalnya pada kata kumau sedangkan enklitik terletak dibelakang misalnya pada kata rumahku. Satuan juang dalam berjuang atau temu dalam bertemu juga merupakan satuan terikat, namun tidak dapat dimasukan kedalam golongan afiks maupun klitik karena mempunyai sifat tersendiri dan dapat dijadiakn bentuk dasar seperti dalam berjuang, bertemu yang disebut pokok kata.

Satuan terikat, ada yang secara gramatik mempunyai sifat bebas seperti halnya satuan-satuan yang dalam tuturan biasa dapat berdiri sendiri, contoh satuan-satuan itu adalah dari, kepada, tentang, karena, meskipun, lah. Satuan lah pada berjalanlah kelihatannya terikat pada berjalan tetapi dengan adanya frase berjalan cepatlah, berjalan keluarlah, lah disini secara gramatik tidak terikat pada berjalan.

Morfem, Morf, Alomorf dan Kata
Morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil atau satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya. Banyak morfem yang mempunyai satu struktur fonologik misalnya morfem baca, yang fonem-fonemnya, banyaknya fonem serta urutan fonemnya selalu demikian, terdiri dari empat fonem ialah /b, a, c, dan a/. namun ada pula morfem yang mempunyai beberapa struktur morfologik. Misalnya morfem meN- yang mempunyai struktrur morfologik mem-, meny-, men-, mem-, menge-, dan me-. Bentuk-bentuk mem-, meny-, men-, mem-, menge-, dan me- masing-masing disebut morf yang semuanya merupakan alomorf dari morfem meN-. Yang dimaksud dengan kata adalah satuan bebas yang paing kecil atau dengan kata lain setiap satu satuan bebas merupakan kata.

Kata merupakan dua macam satuan yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku sedangkan suku terdiri dari beberapa fonem, misalnya kata belajar terdiri sdari tiga suku kata dan tujuh fonem. Sebagai satuan gramatik, kata terdiri dari satu atau beberapa morfem. Misalnya pada kata terpelajar terdiri dari tiga morfem yaitu ter-, per- dan morfem ajar.

Deretan Morfologik
Deretan morfologik ialah suatu deretan atau suatu daftar yang memuat kata-kata yang berhubungan dalam bentuk dan artinya. Deretan morfologik amat berguna dalam penentuan morfem-morfem. Untuk mengetahui kata terlantar terdiri dari satu atau dua morfem dapat diketahui dari deretan morfologik. Kata itu haruslah dibandingkan dengan kata-kata lain yang berhubungan dalam bentuk dan artinya dalam deretan morfologik:

terlantar
menelantarkan
ditelantarkan
keterlantaran
——————
terlantar
Dari deretan morfologik diatas, dapat dipastikan bahwa kata terlantar hanya terdiri dari satu morfem.
Banyak kata yang kelihatannya terdiri dari dua morfem atau lebih tetapi setelah diteliti benar-benar pada hakekatnya secara deskriptif hanya terdiri dari satu morfem saja. Misalnya segala, terlentang, perangai, pengaruh, selamat, petua dan masih banyak lagi.

Pengenalan Morfem
Ada beberapa prinsip yang bersifat saling melengkapi untuk memudahkan pengenalan morfem yaitu:
1. Prinsip 1
Satuan-satuan yang mempunyai struktur morfologik dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem. Struktur morfologik adalah urutan fonem. Satuan-satuan dikatakan mempunyai struktur morfologik yang sama apabila fonem-fonem dan urutan fonemnya sama. Istilah arti dimaksudkan arti leksikal, sedangkan istilah makna dimaksudkan arti gramatikal. Satuan baca dalam membaca, dibaca, membacakan, pembaca, terbaca merupakan satu morfem karena satuan itu mempunyai struktur fonologik dan arti yang sama. Satuan ke-an dalam kehujanan yang memiliki makna ’pasif keadaan’ dan ke-an dalam kemanusiaan yang mempunyai makna ‘abstraksi, hal’ tidak dapat dimasukan dalam satu morfem karena meskipun keduanya mempunyai struktur fonologik yang sama tetapi arti atau makna gramatiknya tidak sama.
2. Prinsip 2
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda merupakan satu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan secara fonologik. Kata-kata membawa, mendukung, menyuruh, menggali mengebom, dan melarat terdapat perbedaan struktur fonologik mem-, men-, meny-, meng-, menge-, dan me disebabkan oleh kondisi satuan yang mengikutinya. Namun dapat dijelaskan secara fonologik sehingga satuan-satuan tersebut merupakan satu morfem, atau merupakan alomorf dari morfem meN-.
3. Prinsip 3
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda, walaupun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologik masih dapat dianggap satu morfem apabila mempunyai arti atau makna yang sama dan mempunyai distribusi yang komplementer. Contohnya satuan bel- hanya terdapat pada belajar dan pada satuan-satuan lain selalu dipakai ber- atau be- dan pada ajar tidak pernah digunakan ber- atau be-.karena itu ber- merupakan satu morfem dengan ber- atau merupakan alomorf morfem ber- karena meskipun struktur fonologiknya berbeda dan perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologik tetapi mempunnyai makna yang sama dan mempunyai distribusi yang komplementer dengan morfem ber-.
4. Prinsip 4
Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan maka kekosongan itu merupakan morfem yang disebut morfem zero. Misalnya ada dua kalimat ia membeli buku dan ia makan roti. Kedua kalimat itu berstruktur SPO yang predikatnya berupa kata verbal transitif. Kata verbal transitif pada kalimat pertama ditandai oleh adanya meN-, sedangkan kata verbal transitif pada kalimat kedua ditandai oleh kekosongan yaitu tidak adanya meN-. Maka kekosongan itu merupakan morfem yang disebut morfem zero.
5. Prinsip 5
Satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama dan mempunyai arti yang berhubungan, satuan itu merupakan satu morfem apabila distribusinya tidak sama dan merupakan morfem yang berbeda apabila distribusinya sama. Misalnya kata datang pada ia belum datang merupakan satu morfem dengan kata datang pada datangnya terlambat karena keduanya memiliki arti yang berhubungan dan mempunyai distribusi yang berbeda. Sebaliknya kata kursi pada ia membeli kursi merupakan morfem yang berbeda dengan kata kursi pada ia mendapat kursi di DPR karena keduanya mempunya distribusi yang sama.
Kata-kata dikatakan mempunyai distribusi yang sama apabila menduduki fungsi yang sama dalam kalimat yang sama polanya namun apabiala kata-kata itu tidak menduduki fungsi yang sama dikatakan kata-kata itu mempunyai distribusi yang berbeda.
6. Prinsip 6
Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupaka morfem. Misalnya disamping bersandar terdapat sandaran. Bersandar terdiri dari satuan ber- dan sandar dan satuan sandaran terdiri dari sandar dan –an. Maka ber-, sandar, dan –an masing-masing merupakan morfem sendiri-sendiri. Satuan renta yang berarti ‘sekali’ hanya terdapat pada tua renta namun ada pula tua bangka, sudah tua, ketua, tertua maka jelas bahwa tua merupakan satu morfem dan renta yang hanya dapat bergabung dengan tua merupakan morfem tersendiri. Suatu morfem yang hanya dapat berkombinasi dengan satu morfem saja disebut morfem unik dan renta itu dapat disebut morfem unik.

Hirarki Bahasa
Satuan-satuan gramatik, kecuali morfem, terdiri dari satuan-satuan yang lebih kecil melalui suatu hirarki. Misalnya berperikemanusiaan , hirarki pembentukannya, terbentuk dari unsur ber- dan perikemanusiaan. Satuan perikemanusiaan terbentuk dari unsur peri dan kemanusiaan. Selanjutnya kemanusiaan terdiri dari unsur ke-an dan manusia. Jadi proses terbentuknya satuan berperikemanusiuaan: manusia-> kemanusiaan-> perikemanusiaan-> berperikemanusiaan. Untuk menentukan unsur tersebut, apabila hanya terdiri dari dua satuan maka dengan mudah dapat ditentukan bahwa kedua satuan itu merupakan unsurnya tetapi apabila satuan yang diselidiki itu terdiri dari tiga satuan atau lebih maka harus memperhatikan dua taraf:
1. Taraf 1
Pada taraf ini, dicari kemungkinan adanya satuan yang satu tingkat lebih kecil daripada satuan yang diselidiki. Misalnya kata berkemauan. satuan berkemau tidak ada, yang ada adalah kemauan sebagai satuan yang satu tingkat lebih kecil daripadanya. Berarti berkemauan terdiri dari unsur ber- dan kemauan. Selanjunya mengenai kemauan, satuan kemau dan mauan tidak ada. Maka dapat ditentukan bahwa saruan yang satu tingkat lebih kecil daripadanya adalah mau. Jadi kemauan terbentuk dari unsur ke-an dan mau.
2. Taraf 2
Satuan yang tidak dapat ditentukan unsurnya pada taraf pertama untuk menentukan unsurnya diperlukan taraf kedua. Misalnya pada kata pembacaan. Satuan yang satu tingkat lebih kecil daripadanya adalah pembaca dan bacaan, keduanya terdapat dalam pemakaian bahasa, berdasarkan tahap pertama pembacaan mungkin terbentuk dari unsur pembaca dan -an mungkin pula terdiri dari unsur peN- dan bacaan. Untuk menentukan unsur kata pembacaan diperlukan tahap kedua ialah faktor arti atau makna. Kata pembacaan mempunyai arti ‘hal membaca, atau suatu abstraksi dari perbuatan membaca’ jika pembacaan terbentuk dari unsur peN- dan bacaan tentu makna peN- tidak sesuai dengan arti yang dinyatakan oleh kata pembacaan. Demikian pula apabila kata pembacaan terbentuk dari unsur pembaca dan –an tentu makna –an tidak sesuai dengan arti yang dinyatakan oleh kata pembacaan. Dari faktor arti jelaslah bahwa pembacaan terbentuk dari unsur peN-an dan baca.

Bentuk Asal dan Bentuk Dasar
Bentuk asal adalah satuan yang paling kecil yang menjadi asal sesuatu kata kompleks.. Misalnya kata berpakaian terbentuk dari bentuk asal pakai mendapat bubuhan afiks –an menjadi pakaian keumdian mendapat bubuhan afiks ber- menjadi berpakaian.
Bentuk dasar ialah satuan, baik tunggal maupun kompleks, yang menjadi dasar bentukan bagi satuan yang lebih besar. Misalnya kata berpakaian terbentuk dari bentuk dasar pakaian dengan afiks ber- selanjutnya kata pakaian terbentuk dari bentuk dasar pakai dengan afiks –an.
Bentuk asal selalu berupa bentuk tunggal sedangkan bentuk dasar mungkin berupa bentuk tunggal misalnya pakai dalam pakaian, sudah dalam kesudahan dan mungkin pula berupa bentuk kompleks misalnya pakaian dalam berpakaian, pemimpin dalan kepemimpinan.

Sumber: Prof. Dr. Ramlan Morfologi (Suatu Tinjauan Deskriptif): hal. 21-38



8 Comments so far

  1.    Boyce Pulver on February 25, 2016 9:14 am      Reply

    It’s an remarkable article for all the web users; they will take advantage from it I am sure.

  2.    Ronda Titsworth on March 16, 2016 11:48 pm      Reply

    I appreciate you for writing this remarkable high quality articles. The information in this material verifies my standpoint and you really laid it out well. I could never have written an article this great.

  3.    Ravi on June 23, 2016 4:59 pm      Reply

    Nice post very informative thanks for posting

  4.    Snehil Chaurasia on June 28, 2016 12:48 am      Reply

    Thnks

  5.    Mary on August 30, 2016 4:53 pm      Reply

    This is a lovely post.

  6.    yellow pages on October 27, 2016 5:09 pm      Reply

    Nice to see these post

  7.    Shikhar on October 29, 2016 11:09 am      Reply

    Thnks re

  8.    cillia ribbing on November 3, 2016 4:57 pm      Reply

    I like this text

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind