Bahasa Mentawai

April 10, 2011 | 1 Comment

Bahasa Mentawai adalah bahasa yang dipakai sebagai bahasa sehari-hari di daerah kepulauan Mentawai yang luasnya 6.541 km persegi. Bahasa Mentawai merupakan suatu bahasa daerah di Indonesia yang termasuk rumpun bahasa Melayu Polinesia, yang dipelihara oleh masyarakat pemakainya. Kepulauan Mentawai terletak di Samudra Indonesia, berhadapan dengan pantai barat propinsi Sumatra Barat dan Bengkulu. Kepulauan ini membujur dari barat laut ke tenggara termasuk ke dalam wilayah propinsi Sumatra Barat.

Menurut sensus terakhir (1996) jumlah penduduk kepulauan Mentawai 37.213 orang. Diperkirakan 5% dari penduduk itu adalah para pendatang dari daratan Sumatra dan Jawa sisanya 95% merupakan penduduk asli dan seluruhnya berbahasa Mentawai.

Bahasa Mentawai merupakan alat komunikasi yang utama daerah kepulauan Mentawai. Bahasa ini terutama dipakai dalam lingkungan keluarga dengan para sahabat dan kenalan, dengan orang Mentawai yang baru dikenal, diantara orang yang belum saling mengenal, dalam upacara adat dan keagamaan, bahkan sampai-sampai situasi resmi atau dinas. Ini disebabkan karena daerah ini terpencil jika dibandingkan dengan daerah lain di Sumatra Barat, daerah ini masih jauh terbelakang dalam segala bidang.

Di sekolah dasar (SD) di kota kecamatan dan kampung-kampung, bahasa pengantar sampai kelas tiga adalah bahasa Mentawai. Mulai kelas empat secara resmi mulai digunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam pelaksanaannya, bahasa Mentawai masih tetap dipakai sebagai bahasa pengantar disamping bahasa Indonesia sampai kelas enam. Tetapi bahasa Mentawai tidak diajarkan sebagai mata pelajaran di SD.

Sastra lisan bahasa Mentawai adalah ‘pasikat’ (pantun) dan cerita rakyat yang sangat populer dan digemari oleh masyarakat Mentawai. Selain itu juga ada mantera (kerei) dan jampi-jampi tetapi tidak sepopuler pantun karena mantera dan jampi-jampi hanya diajarkan kepada orang-orenag tertentu yang sengaja belajar secara khusus. Sampai sekarang tidak ditemui sastra tulis di Mentawai. Penerbitan-penerbitan buku juga belum ditemui kecuali beberapa kitab Injil dan buku-buku agama lainnya yang diterbitkan oleh missi Katolik.

Dalam masyarakat pemakai bahasa Mentawai ditemui berbagai dialek geografis ataupun dialek sosial. Dialek geografis yang utama adalah:

  1. Dialek Siberut Utara
  2. Dialek Siberut Selatan
  3. Dialek Sipora/Sioban
  4. Dialek Sikakap

Dialek sosial yang utama dalam bahasa Mentawai adalah:

  1. Dialek rakyat jelata
  2. Dialek para ‘kerei’ (dukun)
  3. Dialek kaum cerdik pandai
  4. Dialek para pemuka agama

Dialek yang diteliti dalam buku ini adalah dialek yang paling banyak jumlah pemakainya yaitu dialek sikakap. Dialek ini lebih banyak dipakai sebagai alat komunikasi, baik diantara sesama anggota masyarakat Mentawai maupun dengan masyarakat luar. Daerah dialek ini adalah kecamatan Pagai Utara/Selatan.

1. Fonologi

Bahasa Mentawai mempunyai 33 fonem segmental yang terdiri dari 21 fonem konsonan, 5 fonem vokal dan 7 diftong. Contoh pemakaian tiap fonem:

a. Konsonan

/b/              /balu/               ‘delapan’

/t/               /sita/                 ‘kita’

b. Vokal

/i/               /rupi/                ‘dinding’

/a/              /abɛu/               ‘besar’

c. Diftong

/ay/                        /alay/                ‘rambut’

/ey/                        /kabey/             ‘tangan’

Beberapa pasang bunyi yang dicurigai sebagai satu fonem atau sebagai alofon dari satu atau lebih fonem, perlu dibuktikan dengan kontras dalam pasangan minimal. Misalnya:

  • /p/                               dan                 /d/

/puluh/ ‘puluh’       dan                  /bulu/ ‘bulu’.

  • /t/                                dan                  /d/

/uktuk/ ‘untung’    dan                  /ukduk/ ‘dada’

Dalam bahasa Mentawai tidak terdapat variasi fonem yang menonjol ataupun alofon. Suatu vokal yang didahului oleh fonem sengau, vokal tersebut dan vokal lain yang mengikuti vokal terdahulu, diucapkan sebagai vokal sengau (nasalized vowel) seperti /sirimanua/ ‘orang’ diucapkan [sirimãnũã], /maigi/ ‘banyak’ diucapkan [mãîgi].

Distribusi fonem tunggal dalam bahasa Mentawai dapat diperinci:

  1. Distribusi fonem konsonan
  2. Distribusi fonem vokal
  3. Distribusi diftong

Sedangkan distribusi gugus fonem terdiri dari

  1. Gugus konsonan
  2. Gugus vokal

Setiap kata Mentawai terdiri dari satu atau lebih suku kata, dan tiap suku kata mengandung suatu puncak yang pada umumnya terdiri dari satu vokal. Beberapa konsonan dapat pula menjadi puncak silabe yaitu konsonan-konsonan /m/, /n/, /ŋ/. Onset dari silabe itu haruslah konsonan yang sama. Onset dari sebuah silabe terdiri dari satu atau dua .konsonan.

Pola suku kata dibawah ini bisa ditemui pada kata-kata Mentawai umum (v=vokal;  k=konsonan).

  1. v                /uma?/              ’burung’
  2. k                /sɔnn/               ’gigi’
  3. vk              /uktuk/             ’untung’
  4. kv              /sara/                ’satu’
  5. kvk            /nɛnɛ?/             ‘ini’
  6. kkv            /bɔkklɔ/            ‘lutut’

2. Morfologi

Imbuhan dalam bahasa Mentawai terdiri dari 3 macam yaitu awalan, akhiran, dan imbuhan terputus yang berupa seolah-olah awalan dan akhiran tetapi sebenarnya adalah imbuhan yang terputus yang akar katanya berada di tengah.

a. Awalan

Terdapat 12 awalan yang mempunyai arti dan fungsi yang berbeda-beda yaitu [ma1-], [ma2-], [mu-], [masi-], [si1-], [si2-], [si3-], [i-], [sima-], [ŋaM-], [sa-], [pa-].

b. Akhiran

Terdapat 5 akhiran yang mempunyai arti dan fungsi yang berbeda-beda yaitu [-ɛn], [-N], [-akɛ?], [ji-], [-lɛ?], dan [-tɛ].

c. Imbuhan terputus

Ditemukan 2 imbuhan yang terputus yaitu {a…ŋan} yang dipakai jika kata dasar berakhir dengan vokal dan {a…an} dipakai ditempat lain. Imbuhan terputus ini diimbuhkan pada kata kerja dasar atau kata kerja yang berasal dari kata benda dengan awalam /mu-/ misalnya /mutɔbat/ ‘mempunyai atap’. Fungsi dan arti imbuhan {a…an} ialah membuat kata kerja yang dibubuhinya menjadi kata kerja yang menyatakan pekerjaan yang sudah dilakuakan.

Dalam bahasa Mentawai ada dua macam reduplikasi yaitu reduplikasi murni dan reduplikasi sebagian dengan atau tanpa awalan. Misalnya:

  • /mɔilɛ?/      ‘pelan’             –           /mɔilɛ?-mɔilɛ?/ ‘pelan-pelan’
  • /bulu?/       ‘daun’              –           /pabulu?-bulu?/ ‘daun-daunan’
  • /lɔɔ?/          ‘minum’           –           /mulɔlɔɔ/            ‘akan minum’

Ada tiga macam kompositum yaitu:

a. kata benda +      kata sifat menjadi kata benda kompositum

/tɔga/ ‘anak’            /siaraw/ ‘tiri’                /tɔga siaraw/’anak tiri’

b. kata benda +      kata benda menjadi kata benda kompositum

/kulit/ ‘kulit’          /bukɔ/ ‘buku’                /kulit bukɔ/’kulit buku’

c. kata sifat +      kata benda menjadi kata sifat kompositum

/kɛlat/ ‘keras’         /patuat/ ‘pikiran’        /kɛlat patuat/’keras kepala’

3. Sintaksis

Kalimat dasar bahasa Mentawai terdiri dari dua konstituen (pemadu), yaitu subjek (pokok) dan predikat (ulasan). Semua pokok secara arbiteralis terdiri dari frase nominal (FN) sedangkan ulasan terdiri dari frase-frase lain.

Pola pertama dari kalimat dasar terdiri dari sebuah FN sebagai pokok dan ulasannya juga terdiri dari sebuah FN. Misalnya:

FN + FN

1. /sirimanua nɛnda           guru/

‘orang        itu’                   ‘guru’

Orang itu guru

2. /sɔkat                                 gɔgoy sinɛn/

‘kemarin’                           ‘hari senin’

Kemarin hari senin

Pola kedua dari kalimat dasar terdiri dari sebuah FN dan sebuah frase verba (FV). FV biasanya terdiri dari sebuah verba yang tidak mengambil objek (verba intransitif) atau sebuah verba yang diikuti oleh sebuah objek (verba transitif). Misalnya:

FN + FV

1. /aku                                   manibɔ/

‘saya’                                 ‘berbicara’

Saya berbicara

2. /ukkuy                             mamaŋkru /

‘ayah’                                ‘mencangkul’

Ayah mencangkul

Pola ketiga dari kalimat dasar terdiri dari sebuah FN dan sebuah frase ajektif (FA). Didalam bahasa Mentawai semua ajektif dasar diawali oleh [ma-] dan dapat didahului oleh kata /bulat/ atau /makɔpɛ/ yang berarti ‘paling’. Misalnya:

FN + FA

1. /uma? nɛ?nɛ?                    magoysɔ/

‘burung ini’                       ‘kecil’

Burung ini kecil

2. /ina                                     bulat mabɛsi?/

‘ibu’                                    ‘benar sakit’

Ibu sakit benar

Pola keempat dari kalimat dasar terdiri dari sebuah FN dan sebuah F-ay-prep. Misalnya:

FN + F Prep.

1. /kamm                               ay sɛdda/

‘saudara’                           ‘adalah disana’

Saudara di sana

2. /nia                                    ay nia ka lalɛp/

‘dia’                                   ‘adalah dia’     ‘dirumah’

Ia (perempuan atau laki-laki) dirumah

Pola kelima dari kalimat dasar terdiri dari sebuah FN dan sebuah FNu. Misalnya:

FN + F Nu

1. /tɔgat sikɔla nɛnda                                    ɛpat sia/

‘murid sekolah itu’                                   ‘empat orang’

Murid sekolah itu empat orang

2. /toytet nɛnda                                          tɛlu  ŋaloyna?/

‘kelapa itu’                                                ‘tiga batang’

Kelapa itu tiga batang

Frase dan kalimat dalam bahasa Mentawai dapat mengalami perubahan sehingga menjadi bertambah luas atau digabungkan atau ada bagian yang dihilangkan. Ada juga yang dapat dibalikkan, ditafsirkan, dijadikan negatif, dan dijadikan tanya. Hal-hal ini dapat dengan mengubah urutan, menambah kata tugas dan menukar pola intonasi.

Kata dalam bahasa Mentawai dapat dibagi atas:

  1. kata benda
  2. kata kerja
  3. kata sifat
  4. kata keterangan
  5. kata sandang
  6. kata penunjuk
  7. kata tanya
  8. kata bilangan
  9. kata penghubung
  10. kata depan
  11. kata modal
  12. kata modalitas

Komponen kalimat dalam bahasa Mentawai terdiri dari kategori gramatikal, fungsi gramatikal, dan peran gramatikal. Kategori gramatikal mencakup golongan kata, frase, dan klausa/ayat. Frase terdiri dari frase nominal, frase verbal, frase ajektif, frase ay-preposisi dan frase numeral. Fungsi gramatikal mencakup pokok, ulasan/predikat, dan obyek.

Buku bahasa Mentawai merupakan buku hasil penelitian struktur bahasa Mentawai yang tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang berguna untuk pengembangan pendidikan di daerah ini secara lebih lancar karena bahasa sangat erat hubungannya dengan pendidikan dan juga sebagai pengembangan daerah itu selanjutnya agar dapat sejajar perkembangannya dengan daerah-daerah yang lain. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan bahasa daerah itu sendiri dan sebagai bahan permulaan untuk penelitian-penelitian lebih lanjut yang lebih dalam mengenai bahasa dan kebudayaan Mentawai di masa yang akan datang.

Setelah saya membaca buku ini, manfaat yang saya peroleh yaitu mengetahui seperti apa bahasa Mentawai itu, mengetahui struktur bahasa Mentawai seperti fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis dan semantik. Disamping itu juga menjadi lebih memahami bagaimana latar belakang suku bangsa Mentawai sebab bahasa juga merupakan bagian dari kebudayaan.

Sumber:

Lenggang, Zainuddin HR. 1978. Bahasa Mentawai. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



1 Comment so far

  1.    Hassan on November 8, 2016 6:23 am      Reply

    thanks alot for this article

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind