Kata merupakan satuan terkecil yang mengandung makna. Kata memiliki dua macam makna yaitu makna dari kata itu sendiri secara otonom dan makna sebagai akibat terjadinya proses gramatika. Plato menyatakan bahwa diantara kata (buyi-bunyi bahasa) yang kita pakai berhubungan dengan barang-barang yang dinamainya. Sedangkan Aristoteles berpendapat bahwa hubungan antara bentuk dan arti kata adalah soal perjanjian antara pemakai bahasa.

Pada tahun 1825, C. Chr. Reisig, seorang sarjana Jerman mengemukakan konsep baru mengenai gramatika, dia mengatakan bahwa gramatika terdiri dari tiga unsur utama yaitu semasiologi, sintaksis dan etimologi. Konsep gramatikal yaitu konsep yang di tunjukan dengan hadirnya imbuhan, kata tugas, dan susunan kata. Kata dapat didefinisikan secara tepat apabila arti tersebut berhubungan dengan hal-hal yang kita ketahui secara ilmiah.

Charles Hockett menerangkan bahwa bahasa merupakan suatu sistem yang kompleks dari kebiasaan-kebiasaan. Sistem bahasa terdiri dari lima subsistem yaitu subsistem gramatika, subsistem fonologi, subsistem morfofonemik, subsistem semantik, dan subsistem fonetik.

Analisis komponensial (componential analysis) digunakan untuk menjelaskan sistem hubungan kekerabatan, setiap kata dapat diterangkan secara semantik, berdasarkan sejumlah komponen/ciri-ciri pembedanya seperti dalam analisis ciri pembeda.

Ferdinand de Saussure berpendapat bahwa studi linguistik harus difokuskan pada keadaan bahasa itu pada waktu tertentu. Maka pendekatannya harus sikronis dan studinya harus deskriptif. Ciri kajian semantik akibat pandangan ini yaitu studi kosa katanya sangat mendapat perhatian dan pandangannya tidak lagi bersifat historis. Ia juga mengajukan konsep signe untuk menunjukan gabungan signifie “yang djelaskan” dan signifiant” yang menjelaskan”. Konsep mengenai signe linguistique merupakan satu kesatuan yang meunjuk kepada suatu referen yaitu sesuatu berupa benda atau hal yang berada di luar bahasa. Konsep itu sampai saat ini masih menguasai dunia linguistik.

Kaum semantik generatif mengatakan bahwa struktur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen. Untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup dengan kaidah transformasi saja. Struktur semantik serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat (pre-) dengan seperangkat argumen (arg) dalam suatu proposisi (pro-). Argumen adalah segala sesuatu yang dibicarakan sedangkan predikat menghubungkan atau menunjukan hubungan semuanya. Dalam menganalisis makna kalimat, teori generatif semantik berusaha mengabstraksikan predikatnya dan menentukan argumen-argumennya sampai diperoleh predikat yang tidak dapat dianalisis lagi yang disebut predikat inti (atomik predicate). Untuk menganalisis suatu bahasa secara cermat, “arti” dan presuposisi harus dibedakan.

Charles J. Fillmore sebagai tokoh tata bahasa kasus, membagi kalimat atas modalitas dan proposisi. Modalitas berkenaan dengan negasi, kala, aspek, dan adverbia, sedangkan proposisi berwujud sebuah verba disertai sejumlah kasus. Kasus (case) dalam  teori adalah hubungan antara verba dengan nomina dalam struktur semantik. Verba disini sama dengan predikat dan nomina sama dengan argumen.

Dalam analisis bahasa, komponen semantiklah yang merupakan pusat. Menurut Wallace L. Chafe struktur semantik terdiri dari dua unit semantik pokok yaitu kata kerja (KK) dan kata benda (KB). Dalam struktur semantik ini KK merupakan pusat. Berapa KB yang hadir dalam suatu struktur semantik tergantung pasa tipe/jenis KK dalam struktur itu. Dalam suatu struktur semantik, KB menurut fungsi semantiknya bisa berlaku sebagai agent, patient, experience, benefactive, locative, atau complement. Ada lima tipe utama KK dasar yaitu KK keadaan, KK proses, KK aksi, KK aksi-proses dan KK ambien. Empat tipe KK dasar tambahan yaitu KK pengalaman, KK benefaktif, KK pelengkap, KK lokatif.

Dalam studi bahasa, struktur kalimat ditentukan oleh faktor-faktor diluar bahasa seperti faktor antara pembicara dan pendengar, faktor waktu dan tempat, juga ditentukan oleh unsur-unsur yang mendahului atau mengikuti kalimat tersebut didalam suatu wacana. Halliday mengatakan bahwa arti kalimat ditentukan oleh 3 hal yaitu transitivity, mood, dan theme.

Sumber: Materi yang diberikan dosen dalam mata kuliah Linguistik Jawa II.



1 Comment so far

  1.    TipsVsTrik on October 30, 2016 8:07 pm      Reply

    mantap. Keren

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind