PENDAHULUAN

Menurut ilmu antropologi, kebudayaan itu adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik manusia dengan cara belajar. Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”. Sehingga kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Budaya merupakan daya dari budi yang berupa cipta, karsa dan rasa sedangkan kebudayaan itu merupakan hasil dari cipta, karsa dan rasa itu.

Tiap-tiap kebudayaan dari tiap-tiap bangsa dapat dibagi kedalam tiap-tiap unsur yang tidak terbatas jumlahnya. Diantaranya ada unsur-unsur yang amat besar tetapi juga ada unsur-unsur yang sangat kecil. Ilmu antropologi membagi tiap-tiap kebudayaan kedalam unsur-unsur yang sangat besar yang disebut cultural universal. Istilah universal itu menunjukan bahwa unsur-unsur itu bersifat univerial, artinya ada dan bisa didapatkan didalam semua kebudayaan dari semua bangsa dimanapun juga didunia. Unsur-unsur kebudayaan  sebagai cultural universal yang bisa didapatkan pada semua bangsa didunia adalah:

  1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
  2. Sistem mata pencaharian hidup
  3. Sistem kemasyarakatan
  4. Sistem pengetahuan
  5. Bahasa
  6. Kesenian
  7. Religi

Cultural universal tadi dipecah lagi kedalam unsur-unsur yang lebih kecil. Dengan memakai istilah R. Linton, Cultural universal dapat dipecah ke dalam unsur-unsur yang lebih kecil yang disebut dengan cultural activities atau aktivitas-aktivitas kebudayaan. Sebagai contoh misalnya dalam universal mata pencaharian hidup ada aktivitas-aktivitas kebudayaan seperti: perburuan, pentanian, berladang, peternakan, dan lain sebagainya. Cultural activities dapat dipecah lagi dalam unsur-unsur yang lebih kecil yang disebut trait complexes atau kompleks unsur-unsur. Misalnya dalam rangka aktivitas pertanian menetap ada kompleks kompleks unsur-unsur seperti irigasi dan sistem mengolah tanah dengan bajak. Trait kompleks dapat dipecah lagi kedalam traits atau unsur-unsur. Misalnya kompleks unsur-unsur mengolah tanah dengan bajak dapat dipecah kedalam unsur-unsurnya bajak, binatang-binatang yang menarik bajak dan lain sebagainya. Dan akhirnya traits dapat dipecah lagi menjadi items atau unsur-unsur kecil. Bajak tadi sebagai suatu trait  terdiri dari unsur- unsur kecil yang dapat dilepaskan satu dengan lain.

Kebudayaan sebagai objek penyelidikan antropologi mempunyai tiga aspek yaitu kebudayaan sebagai tata kelakuan, kebudayaan sebagai kelakuan manusia itu sendiri dan kebudayaan sebagai hasil kelakuan manusia. Kelakuan itu didalam praktek dapat berupa cita-cita, norma-norma, pandangan-pandangan, hukum-hukum, aturan-aturan, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap dan lain sebagainya yang mendorong kelakuan manusia. Kelakuan manusia itu sendiri dalam praktek berupa proses-proses dan aktivitas- aktivitas bersama. Hasil kerja manusia dalam praktek akan berupa benda-benda, peralatan, perlengkapan, benda-benda kesenian dan lain sebagainya. Dalam hal melukiskan kebudayaan, maka harus dilukiskan tata kelakuan  dan juga benda-benda kebudayaan itu.

ANALISIS

Berdasarkan pengamatan saya tentang aktivitas masyarakat khususnya dalam bercocok tanam padi di sawah pada desa Jepara bahwa bercocok tanam yang dilakukan di desa tersebut termasuk kedalam bercocok tanam menetap karena mereka mempunyai sawah sendiri dan mengolahnya sendiri dengan tidak berpindah-pindah. Bercocok tanam menetap dilakukan dengan cara memelihara kesuburan sehingga setiap tahun tanah itu dapat memberikan hasil. Dalam sistem pertanian menetap tanah itu harus kelola sendiri oleh manusia dengan cara-cara seperti mengintensifkan cara-cara pengolahan tanah, pemupukan tanah dan pertukaran tanaman.

Bercocok tanam dimulai dengan memperbaiki bagian-bagian dari sistem irigasi seperti memperbaiki pematang-pematang, memperbaiki saluran-saluran dan juga memperbaiki bendungan-bendungan yang merupakan sumber dari sistem irigasi bagi sekelompok sawah-sawah disekitar desa. Saluran air itu kemudian dibuka sehingga air bisa mengalir dari bagian sungai yang dibendung dan merata kesawah-sawah. Sungai yang ada pada desa ini jumlahnya dua, sungai besar letaknya lebih tinggi, sungai kecil lebih rendah dan sawah berada paling bawah sehingga air lebih mudah mengalir.

Sawah digenangi air untuk beberapa waktu antara satu sampai dua minggu, sisa-sisa jerami dari tanaman padi hasil panen yang lalu dihancurkan. Kemudian setelah itu  tanahnya diolah dengan cara dicangkul sendiri atau dengan bajak yang bermesin. Dalam masa mengolah tanah itu disiapkan pula tempat untuk menanam biji. Tempat-tempat persemaian itu berupa bidang bidang kecil yang juga telah diolah dan kemudian diratakan  sebelum biji-bijinya disebarkan. Sambil menunggu tunas-tunas padi keluar. Tanah diolah sekali lagi dengan cangkul dan dibiarkan terendam air lagi. Setelah menjadi gumpal-gumpal lumpur, tanah dibiarkan lagi selama satu atau dua minggu dan setelah itu diratakan. Tunas-tunas padi yang telah keluar tadi siap untuk ditanamkan. Dalam penanaman ini biasanya dilakukan oleh wanita. Tunas-tunas dalam bidang-bidang kecil tadi kemudian dicabut dan ditanam satu persatu dengan tangan  kedalam deretan yang panjang dan lurus.

Setelah proses penanaman selesai masih ada proses lagi yaitu mencabuti tanaman-tanaman liar yang mungkin tumbuh disekitar tanaman padi ini juga biasanya dilakukan oleh wanita. Padi yang sedang tumbuh itu harus dipelihara dan dipertahankan dengan baik dari gangguan-gangguan burung, tikus ataupun serangga, biasanya petani memasang penakut atau menyemprotkan anti hama sehingga terhindar dari hewan-hewan tersebut. Padi-padi itu harus dirawat selama beberapa bulan sampai pada saat panen tiba.

Sebelum padi dipanen biasanya ada upacara selamatan yang dilakukan oleh petani. Pemanenan padi bisanya dilakukan oleh wanita dengan menggunakan ani-ani atau ada pula yang yang dilakukan oleh laki-laki dengan menggunakan parang. Untuk merontokan padi di desa ini sudah menggunakan mesin, digilingnyapun sudah dengan mesin. Sambil menunggu penanaman padi berikutnya atau ketikan tiba musim kemarau sekitar tiga atau empat bulan para petani biasanya menanam tanaman seprti ubi, singkong, kacang,kedele, jagung ataupun sayur mayor yang biasa disebut palawija.

Bercocok tanam masuk kedalam unsur sistem mata pencaharian hidup  karena bercocok tanam dilakukan untuk mencari atau memenuhi kebutuhan pangan dan dalam perkembangannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri saja tapi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka guna melangsungkan hidup. Selain itu bercocok tanam juga merupakan suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sejenisnya sehingga merupakan wujud ideal kebudayaan dan sebagai suatu kompleks aktivitas serta kelakuan tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

Kepandaian dalam bercocok tanam merupakan suatu peristiwa yang hebat dalam proses perkembangan kebudayaan manusia sehingga peristiwa itu  disebutnya suatu revolusi kebudayaan. Bercocok tanam tidak terjadi begitu saja tapi muncul dengan cara berangsur-angsur diberbagai tempat didunia. Hidup bercocok tanam dalam perkembangan  kebudayaan manusia timbul sesudah masa berburu, usaha bercocok tanam yang pertama mungkin dimulai dengan aktivitas mempertahankan tumbuhan-tumbuhan ditempat-tempat tertentu dari serangan binatang serangga atau burung dan juga membersihkan tumbuh-tumbuhan untuk  makanan atau terhadap rumput-rumputan yang merusak. Didalam bercocok tanam terdapat pola-pola atau cara-cara dalam bercocok tanam dan juga muncul peralatan-peralatan yang digunakan sebagai pendukung peralatan dan pola-pola tersebut merupakan hasil dari pemikiran manusia itu sendiri yang mereka peroleh dari pengetahuan, kebiasaaan atau kemampuan, kepercayaan, kesenian maupun adat istidat yang diperoleh anggota masyarakat atau kelompok manusia yang terhubung dengan alam.

KESIMPULAN

Kebudayaan itu hanya ada pada makhluk manusia, kebudayaan mula-mula hanya merupakan satu aspek dari proses evolusi manusia. Kebudayaan itu berwujud gagasan dan tingkah laku manusia, kebudayaaan tidak lepas dari kepribadian  individu melalui proses belajar yang panjang dan menjadi milik dari masing-masing individu masyarakat yang bersangkutan. Kepribadian atau watak tiap-tiap individu pasti juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan itu dalam keseluruhannya. Gagasan-gagasan, tingkah laku atau tindakan manusia itu ditata, dikendalikan dan dimantapkan pola-polanmya oleh berbagai sistem norma yang seolah olah berada diatasnya. Bercocok tanam sebagai bagian dari unsur kebudayaan yaitu sistem mata pencaharian hidup dilihat dari cara-caranya dan alat-alat yang digunakan merupakan bagian dari pemikiran ataupun pengetahuan dan melalui proses yang panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1967. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Djakarta: Dian Rakjat

Koentjaraningrat. 1959. Pengantar Antropologi 1. Djakarta: P.T. Penerbitan Universitas

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi . Djakarta: Rineka Cipta



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind