Budaya massa adalah proses budaya yang berlangsung diantara masyarakat umumnya atau bisa juga disebut budaya orang banyak. Budaya massa adalah akibat dari massifikasi industrialisasi dan komersialisasi. Budaya massa sering di saling pertukarkan dengan budaya populer. Budaya massa tidak mengenal diskriminasi karena semua orang ditempatkan dalam level dan golongan yang sama atau bahkan yang namanya level dan tipologi sosial itu dianggap tidak ada. Kebudayaan massa atau kebudayaan populer dengan ditopang industri kebudayaan telah mengkonstruksi masyarakat yang tidak sekedar berbasis konsumsi, tetapi juga menjadikan semua artefak budaya sebagai produk industri dan komoditas.

Budaya massa memiliki ciri-ciri objektivitas, alienasi, dan pembodohan. Objektivitas artinya pemilik hanya menjadi objek, yaitu penderita yang tidak mempunyai peran apa-apa dalam pembentukan simbol budaya. Ia hanya menerima produk budaya sebagai barang jadi yang tidak boleh berperan dalam bentuk apapun. Alienasi artinya pemilik budaya massa akan terasing dari dan dalam kenyataan hidup, ia juga kehilangan dirinya sendiri dan larut dalam kenyataan yang ditawarkan produk budaya. Pembodohan terjadi karena waktu terbuang tanpa mendapatkan pengalaman baru yang dapat dipetik sebagai pelajaran hidup yang berguna jika ia mengalami hal serupa.

Pertumbuhan teknologi adalah hasil peradaban manusia yang penting. Tidak hanya dalam menghasilkan produk budaya yang dibuat dalam jumlah besar, tetapi berkat adanya teknologi pula produk budaya bisa disebarkan. Pemassalan produk budaya adalah salah satu perkembangan penting dalam revolusi industri. Barang-barang yang diproduksi dalam jumlah besar menuntut standardisasi. Dengan cara ini bisa dinetralkan sampai batas-batas yang memuaskan semua lapisan dalam masyarakat. Atas desakan standardisasi produk inilah muncul alasan kuat untuk urbanisasi, monopoli aristrokrasi atas budaya tradisional dihancurkan dan kemudian menjadi milik semua orang. Inilah cikal bakal kebudayaan massa.

Industrialisasi tidak hanya memungkinkan proses massifikasi yang menuntut standardisasi produk budaya dan homogenisasi cita rasa tetapi telah membawa perkembangan baru dengan semakin terbentangnya peluang pasar. Inilah yang menandai komersialisasi atas produk budaya. Dengan komersialisasi produk budaya massa berubah seirama dengan percepatan tuntutan pasar. Massapun berubah  menjadi tempat pemasaran produk budaya dan sasaran iklan. Masyarakat yang terbentuk dari hasil polesan industri inilah yang dikenal sebagai masyarakat massa yang merupakan suatu kategori masyarakat industrial.

Keberhasilan industri kebudayaan sangat bergantung pada media massa. Media massa telah tumbuh menjadi industri yang tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi tetapi mengikuti standar dan logika yang hidup dalam industri budaya kapitalisme. Ia tidak hanya memoles produk budaya, tetapi dengan produk budaya itu kemudian mengkonstruksi selera, cita rasa, dan bawah sadar khalayak, dan sebagai output media yang penting dalam kebudayaan pop.

Disaat adat dan moralitas serta relasi antar individu terus menerus dalam proses pembentukan yang tanpa henti dan sebagai hasil dari dinamika perkembangan teknologi, kebudayaan pop telah menemukan lahan persemaiannya yang subur. Saat individu kehilangan rasa pertalian dengan dirinya di dalam masyarakat yang tengah terus diarahkan ke dalam lautan makna-makna baru saat itulah berbagai kecemasanpun mencuat. Mereka membutuhkan landasan dan kepercayaan baru mungkin sebagai tempat singgah lalu terlelap sebentar dan melupakan kesibukan atau malah terkapar dalam mimpi yang boleh jadi telah dikomodifikasikan.

Dalam masyarakat komoditas, kercantikan dan ketampanan adalah komoditas yang berharga karena ia didukung budaya citra yang mengutamakan penampilan. Banyak produk-produk yang ditawarkan melalui iklan-iklan di televisi. Sebagian masyarakat terpengaruh untuk menggunakannya. Ada kebahagiaan atau kepuasan tersendiri bagi masyarakat komoditas.

Di Indonesia pembangunan pusat dan masyarakat urban lebih banyak dan lebih cepat terbentuk. Pusat urban tersebut bayak dikembangan dari pusat komersial, sebagian besar pusat-pusat itu selanjutnya dikembangkan oleh pertumbuhan birokrasi pemerintah serta mengalirnya migrasi dari desa. Beraneka masyarakat etnis tua, pendistribusian penduduk yang tidak merata, pembangunan pulau-pulau yang tidak merata mengantarkan Republik Indonesia yang baru ini memasuki jenjang hidup. Massa yang berkelompok ke dalam pusat-pusat urban adalah gelombang migrasi yang meliputi beberapa generasi. Di dalam hampir tiap pusat urban dimana dialami gelombang migarasi untuk negara-negara yang sedang berkembang yang baru saja mengatur kembali masyarakat tua mereka menjadi bangsa yang modern.

Semua bentuk ungkapan kebudayaan di dalam masyarakat merupakan orientasi artistik  atau nilai, bersifat peralihan, berkompromi dan akan tetap bertahan untuk waktu yang lama. Ia merupakan suatu kebudayaan yang harus mengekspresi melalui segala macam cara dan media. Cara-cara itu antara lain adalah seni pertunjukan yang intim dan ritual, yang harus dihadapkan pada audiens yang lebih luas dan belum dikenal di lingkungan yang relatif lebih komersial, bahasa, ide dan khayalan yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang lebih modern, praktis, dan yang dikurangi kembang-kembangnya.

Sebagai ilustrasi sifat-sifat kebudayaan massa Indonesia tersebut adalah film, seni pertunjukan, musik, kesusastraan populer di kota-kota di Indonesia. Dalam pertunjukan misalnya wayang wong terdapat pengubahan pertunjukan yang murni artistik dari dan untuk kaum ningrat yang terbatas menjadi seni pertunjukan populer bagi siapa saja di kota. Pengubahan ini dimungkinkan ketika timbul kebutuhan akan pertunjukan tradisional yang diedit bagi massa urban. Perkembangan musik tradisional menjadi musik tradisional yang popular mula-mula dikeluarkan dari fungsinya yang ritual religious, kemudian diedit menurut tuntutan tempo lingkungan hidup yang baru. Musik populer kontemporer mempunyai pengaruh yang dalam pada cara hidup massa urban khususnya generasi muda, bukanlah musik traadisional melainkan musik Indonesia populer diatonis yang kontemporer. Musik diatonis datang bersama pengaruh barat.

Kebudayaan massa di Indonesia berada dalam kondisi dan posisi yang sangat cair. Sifat mudah berubah ini erat sekali hubungannya dengan pusat urban yang senantiasa tumbuh selaku garis penerimaan migrasi pedesaan yang bergerak terus-menerus. Ia juga erat sekali hubungannya dengan pergerakan dunia kebudayaan pada umumnya.

Daftar Pustaka:

Ibrahim, Idi Subandi, dkk. 1997. Ecstasy Gaya Hidup: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia. Bandung: Mizan.

Wardhana, Veven Sp. 1997. Kapitalisme Televisi dan Strategi Budaya Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar (Anggoa IKAPI).



1 Comment so far

  1.    obat penggugur kandungan on February 27, 2016 4:40 am      Reply

    Really informative article post. Want more.

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind