Kajian intertekstual dimaksudkan sebagai kajian sejumlah teks yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, gaya bahasa, dan lain-lain. Kajian intertekstual berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang muncul kemudian. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitanya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw: 1983 via Nurgiyanto, 1995:50).

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapanpun karya itu ditulis tidak mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan tradisi di masyarakat dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumnya. Karya sastra yang ditulis lebih kemudian biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya baik secara langsung maupun tidak, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpangi (menolak, memutarbalikan esensi) konvensi (Nurgiyantoro, 1995:51).

Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram ‘hypogram’ (Riffaterre via Nurgiyanto, 1995:51). Wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi, sesuatu yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks sebelumnya (Teeuw: 1983 via Nurgiyanto, 1995:52).

Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya sesudahnya ini menjadi perhatian utama kajian intertekstual. Adanya unsur hipogram dalam suatu karya mungkin disadari atau tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya yang meneruskan, atau sebaliknya menolak, konvensi yang berlaku sebelumnya (Nurgiyanto, 1995:52).

Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya-karya lain. Masalah intertekstual lebih dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan melainkan bagaimana kita memperoleh makna sebuah karya secara penuh dalam kontrasnya dengan karya yang lain yang menjadi hipogramnya (Nurgiyanto, 1995:54).

Adanya hubungan intertekstual dapat dikaitkan dengan teori resepsi. Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau tidaknya kaitan antara teks yang satu dengan teks yang lain itu, unsur-unsur hipogram itu, berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap adanya unsur hipogram pada suatu karya dari karya lain pada hakikatnya merupakan penerimaan atau reaksi pembaca (Nurgiyanto, 1995:54).

Metode estetika resepsi mendasarkan diri pada teori bahwa karya sastra itu sejak terbitnya selalu mendapat resepsi atau tanggapan para pembacanya. Dalam metode estetika resepsi ini diteliti tanggapan-tangapan setiap periode yaitu tanggapan-tanggapan sebuah karya sastra oleh pembacanya. Pembaca dalam hubungan ini adalah pembaca yang cakap yaitu para kritikus sastra dan ahli sastra yang dipandang dapat mewakili para pembaca pada periodenya (Pradopo, 1995:211). Setiap pembaca pasti berbeda-beda dalam menanggapi sebuah karya sastra. Begitu juga tiap periode itu berbeda dengan periode lain dalam menanggapi sebuah karya sastra.



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind