Metu berarti lahir, sedangkan manten berarti menikah, dan mati yang berarti meninggal. Peristiwa-peristiwa tersebut dianggap penting. Oleh sebab itu harus diadakan upacara-upacara yang mengiringinya. Upacara biasanya dilengkapi dengan sesajen yang dimaksudkan untuk memperoleh keselamatan dan ketentraman. Masyarakat Jawa masih banyak yang menjalankannya meskipun sebagian orang menganggap bahwa tindakan tersebut adalah mistik dan irasional.

Saat ini banyak masyarakat yang masih menjalankan upacara-upacara atau prosesi-prosesi metu dan manten. Upacara yang dilakukan saat ini mengalami beberapa perubahan dan penyederhanaan jika dibandingkan dengan upacara yang dilakukan pada jaman dahulu. Saat ini orang Jawa menjalankan upacara tersebut tidak sedetil dahulu, banyak bagian-bagian yang tidak lagi dijalankan atau mengalami penyederhanaan.

Dahulu upacara masa kehamilan diadakan setiap bulan. Sekarang yang masih banyak dijalankan adalah upacara ngapati atau upacara empat bulan dan mitoni atau upacara tujuh bulan. Perubahan ini terjadi disebabkan oleh mahalnya biaya yang harus dikeluarkan pada setiap upacara. Sedangkan untuk sesajian, masyarakat cenderung masih menyiapkan sajian seperti dahulu.

Upacara ngapati di lingkungan sekitar saya yaitu di desa Jepara Kulon, Kecamatan Binangun, Kabupaten Cilacap, hanya berupa selamatan saja. Sedangkan dalam upacara mitoni, rangkaian upacaranya mengalami penyederhanaan. Saat ini tidak ada lagi siraman dan berganti-ganti pakaian sebanyak tujuh kali.

Pada upacara setelah kelahiran, upacara sepasaran, selapanan, dan upacara tedhak siten masih dilaksanakan hingga sekarang. Upacara sepasaran tidak selalu diadakan tepat bayi berusia lima hari, tetapi menunggu hingga putus tali pusarnya. Upacara sepasaran biasanya sekaligus digunakan untuk memberi nama si bayi yang baru lahir. Rangkaian acara dan sesajiannyapun tidak jauh berbeda dengan dahulu. Sedangkan pada upacara menjelang dewasa yang masih dilakukan adalah upacara sunatan. Upacara tetesan tidak lagi dilakukan. Hanya sedikit orang saja yang masih menjalankan upacara tetesan ini.

Rangkaian upacara manten seperti lamaran, paningsetan, pasang tarub, siraman, midodareni, akad nikah, dan panggih serta upacara yang menyertai panggih seperti balangan suruh, ngidak endhog, sindur, timbangan, kacar-kucur, dulangan, sungkeman, ngundhuh mantenpada saat ini masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Jawa. Masyarakat Jawa yang sudah mulai meninggalkan rangkaian upacara tersebut disebabkan oleh berbagai pengaruh dari luar.

Perubahan yang terjadi misalnya dari gaya pakaian pengantin, karena pengaruh Islam, orang Jawa banyak yang kini mengenakan kerudung dan pakaian yang tertutup dalam pernikahannya. Banyak pula yang meniru cara berpakaian orang barat yaitu dengan mengenakan gaun. Gaya berpakaian ini juga mempengaruhi tata riasnya.

Dahulu pernikahan dilakukan di rumah mempelai wanita, saat ini banyak yang memilih gedung sebagai tempat pernikahannya. Jasa wedding organizer juga banyak dipakai. Terlihat bahwa orang Jawa pada saat ini lebih memilih praktisnya saja.



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind