e0aec80642793cb36f888762ca59f766Sabda Palon Naya Genggong adalah tokoh simbolis dan legendaris. Sabda Palon berarti “orang yang memegang teguh perkataannya” sedangkan Naya Genggong adalah “orang yang beraut muka langgeng / kekal” atau “orang yang tidak mudah terpengaruh” atau “orang yang kuat pendiriannya”. Sabda Palon sesungguhnya adalah rajanya Dang Hyang Tanah Jawa yang sudah mengasuh para raja Jawa selama ini. Penciptaan teks “Ramalan Jayabaya Sabda Palon Naya Genggong atau lebih tepatnya dinamakan “Kutukan Sabda Palon” atau “ Ramalan Sabda Palon” merupakan ramalan atau kutukan yang dilontarkan oleh Sabda Palon dihadapan Prabu Brawijaya. Sabda Palon berkeyakinan bahwa semua yang ada didalam teks / ramalan yang dilontarkan kepada Prabu Brawijaya akan benar-benar terjadi. Dalam Serat Kalamwadi, Sabda Palon adalah makhluk halus yang usianya 8300 tahun yang selama ini mengasuh raja-raja Jawa dan belum pernah raja Jawa berpindah agama. Namun dalam Serat Darmagandhul, Sabda Palon adalah makhluk halus penguasa tanah Jawa yang usianya 2300 tahun dan dikatakan bahwa Sabda Palon adalah Semar. Didalam Serat Manikmaya, pelukisan tentang Semar yaitu telur dicipta menjadi tiga bagian yaitu menjadi bumi dan langit, teja dan cahaya dan menjadi Manikmaya. Manikmaya inilah yang kemudian menjadi Manik (Bathara Guru) dan Maya (Semar). Penyamaan Sabda Palon dengan Semar ini kiranya akan menambah daya kekuatan, daya magis atas ramalan-ramalan, kutukan-kutukan yang dilontarkan oleh Sabda Palon dihadapan Prabu Brawijaya sebagaimana tersurat dalam teks bahwa kelak semuanya itu benar-benar terjadi.

Tokoh Jayabaya dari Kediri adalah raja yang paling popular dan termashur bagi masyarakat Jawa dan menduduki tempat yang istimewa bagi bangsa Jawa karena merupakan titisan Dewa Wisnu yang sangat dihormati terutama bagi aliran Waisnaya yang memiliki ketajaman penglihatan batin yang sempurna sehinggga mampu meramal peristiwa-peristiwa yang belum terjadi. Jayabaya termasuk para raja Jawa yang ditempatkan sebagai leluhur para raja Mataram. Di dalam teks-teks Pustakaraja Madya dikemukakan ramalan kelahiran Jayabaya (Narayana) yang sangat istimewa, berbagai peristiwa yang terjadi ketika Jayabaya berkuasa hingga kematiannya yang sempurna (muksa). Kelahiran Narayana sudah diramalkan oleh Brahmana Kresnawasu dari Ngawu-awu yang berkunjung ke Ngastina menghadap Prabu Gendrayana dan meramalan bahwa putranya kelak adalah titisan Sang Hyang Wisnu Murti yang akan menguasai tahan Jawa. Dalam Serat Gendrayana dan Serat Budhayana kelahiran Jayabaya bersamaan dengan lahirnya putri patih Sutiksna yang diberi nama Dewi Sutiksnawati dan keduanya ditetapkan menjadi jodoh. Dilukiskan dalam Serat Gendrayana bahwa setelah Prabu Gendrayanana muksa, Narayana menggantikan kedudukan ayahandanya menjadi raja dan diberi gelar Prabu Widhayaka. Kemahsyuran tokoh Jayabaya disamping beliau tertulis pada sejumlah prasasti juga sebagai raja yang memerintahkan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh untuk mengubah kakawin Bharatayuda. Jayabaya juga muncul didalam Serat Ajidarma-Ajinirmala, Serat Jangka Jayabaya, Primbon Pustaka Jawa, Serat Kalamwadi, Serat Darmagandhul.

Penciptaan ramalan teks Sabda Palon Naya Genggong dikaitkan dengan pengislaman Prabu Brawijaya oleh Sunan Kalijaga. Prabu Brawijaya masuk Islam dengan cara diyakinkan oleh Sunan Kalijaga. Pada waktu itu Sunan Kalijaga meminta Prabu Brawijaya untuk kembali menjadi Raja di Majapahit, jika Prabu Brawijaya mau masuk Islam maka perlakuan Sultan Demak (Raden Patah) tidak akan Semena-mena. Sunan Kalijaga juga menjelaskan tentang keutamaan agama Islam dan syarat masuk agama Islam hanya membaca Syahadat. Akhirnya Prabu Brawijaya terkesan dan bersedia masuk Islam. Setelah masuk Islam, Prabu Brawijaya mengajak pembantunya (Sabda Palon) untuk mengikuti jejaknya, tetapi Sabda Palon menolak. Ia tetap kukuh terhadap pendiriannya untuk tetap memeluk agama Budha (Budi) yaitu agama Jawa yang telah dianutnya turun temurun. Walaupun telah diyakinkan oleh Prabu Brawijaya berkali- kali dengan cara pembuktian, namun Sabda Palon tetap menolaknya. Akhirnya Prabu Brawijayapun harus merelakan Sabda Palon Naya Genggong tidak lagi mendampinginya.

Pandangan Sabda Palon Naya Genggong tentang keutamaan agama Budha di kemukakan didalam Serat Kalamwadi maupunSerat Darmaghandul. Dalam Serat Kalamwadi dikemukakan bahwa Sabda Palon Naya Genggong menolak ajakan Prabu Brawijaya untuk masuk Islam dan ia menghina tuannya bahwa Prabu Brawijaya telah kehilangan kepribadian. Sabda Palon mengemukakan bahwa surga tidak berada di akhirat dan tidak perlu dicari, karena sudah berada pada diri manusia dan tidak perlu lagi diterima di akhirat. Sabda Palon menguraikan bahwa orang yang berada di surga tidak dapat melihat Tuhan dan hidup adalah kekal abadi, yang mati hanyalah raga. Sabda Palon juga menjelaskan bahwa sastra yang berada pada tubuh manusia mengandung watak dan sifat yang berbeda. Brawijaya sangat terkesan mendengar uraian Sabda Palon itu sehingga keyakinannya hampir goyah.

Sunan Kalijaga kemudian mengharapkan agar Brawijaya tidak memperhatikan apa yang diuraikan Sabda Palon agar keislamannya tidak goyah. Sunan Kalijaga meyakinkan bahwa agama Islam adalah agama yang suci, mulia dan tidak ada yang menyamainya. Sunan Kalijaga menyatakan bahwa apabila air didalam sebuah sendang tetap tawar berarti agama Islam tidak suci dan mulia tetapi apabila berubah menjadi wangi maka agama Islam adalah lebih suci dan mulia dari agama Budha. Ternyata air yang dicipta oleh Sunan Kalijaga berubah menjadi wangi. Namun Sabda Palon tidak heran dengan apa yang telah diperbuat oleh Sunan Kalijaga karena sebenarnya Sabda Palon mampu membuat kejadian yang lebih tinggi nilainya tetapi Sabda Palon tidak bermaksud melawan kekuatan Sunan Kalijaga. Dan kemudian Sabda Palon mengatakan bahwa kelak Pulau Jawa akan mendapat kutuk Tuhan karena perbuatan Brawijaya yang telah masuk Islam.

Legenda etiologis Banyuwangi diungkapkan dalam lima (5) cerita rakyat. Yang pertama, asal-usul nama Banyuwangi bermula dari darah dan air yang berbau harum yang dikeluarkan oleh Sri Tanjung karena ditikam keris oleh Sidapaksa, suaminya. Bau darah yang harum tersebut sebagai bukti kesucian cinta kasih Sri Tanjung kepada suamianya akibat fitnah keji raja Sulakrama. Kedua, asal-usul nama Banyuwangi berkaitan dengan cerita Raden Banterang dan Dewi Surati. Nama Banyuwangi berasal dari darah harum Dewi Surati yang ditikam keris oleh Raden Banterang sebagai pembuktian kesucian cinta kasih dirinya kepada suamianya karena difitnah oleh Raden Surata yang dendam kepada ayahanda Raden Banterang, putra musuh besar ayahnya. Ketiga asal-usul nama Banyuwangi terdapat dalam Babad Blambangan, berkaitan dengan dipindahkannya pusat pemerintahan Blambangan dari Pangpang ke kota baru di hutan Tirtaganda, kemudian Tirtaganda diubah namanya menjadi Tirta Arum dan selanjutnya diubah menjadi Banyuwangi. Keempat, penamaan Banyuwangi terdapat didalam Serat Ajipamasa. Dikatakan bahwa nama Banyuwangi bermula dari cerita Ajar Kapyara dari Panampangan atau Banyuwangi kepada Brahmacari, seorang Brahmana yang diutus oleh Prabu Kusumawicitra (Ajipamasa), raja Kediri untuk menyunting Dewi Daruki. Dikisahkan oleh Ajar Kapyara bahwa nama Banyuwangi berkaitan dengan kemunculan naga Daruka dari dalam suatu telaga. Ketika naga Daruka tersebut keluar dari dalam suatu telaga, maka air telaga tersebut berbau harum. Karena itu desa Pangpang diubah namanya menjadi Toya Arum atau Banyuwangi. Kelima, asal-usul nama Banyuwangi berdasarkan Serat Kalamwadi dan Serat Darmagandhul, dalam Serat Darmagandhul, setelah Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya, Sunan Kalijaga meminta Prabu Brawijaya untuk kembali menjadi raja Majapahit dan mengajak untuk masuk Islam.namun Prabu Brawiaya ingin membuktikan tentang kebaikan yang dibawa oleh Rasullallah dengan membuat tanda. Apabaila air dalam kolam itu berbau wangi niscaya agama Islam itu baik.

Mitos pengislaman Yudhistira (Prabu Darmakusuma) oleh Sunan Kalijaga (Syeh Malaya) terdapat didalam teks-teks Jawa terutama dalam tradisi babad seperti : Babad Tanah Jawi, Babad Demak, Babad Sunan Kalijaga maupun Serat Chentini. Dalam teks-teks tersebut, intinya pada suatu ketika Sunan Kalijaga didatangi Prabu Darmakusuma, raja Amarta sambil membawa kitab Kalimasada. Menurut Sang Hyang Guru, kelak Syeh Malaya yang dapat membaca dan mengajarkan isi kitab Kalimasada tersebut sehingga Prabu Darmakusuma dapat kembali ke surga. Setelah Sunan Kalijaga membukanya ternyata isinya adalah kalimat syahadat. Karena itu setelah Prabu Darmakusuma diajarkan membaca kalimat syahadat maka islamlah baginda. Setelah itu Prabu Darmakusuma bisa wafat atau kembali kepada Hyang Widi dengan tenang dan baik. Namun didalam kitab Centhini kematian Yudhistira dikatakan tidak sempurna dan disuruh kembali kedunia untuk mencari sarana kesempurnaan. Setelah 600 tahun ia mendapat petunjuak agar bertapa dihutan Glagah Wangi yang angker, dan setiap hari diselimuti kabut. Karena hutan Glagah Wangi akan didirikan istana, maka Sunan Giri memerintahkan Sunan Kalijaga untuk memeriksa keadaan hutan. Sunan Kalijaga kemudian bertemu dengan Yudhistira yang menggenggam Azimat yang bernama Kalimasada. Dengan menguasai ilmu itu maka nantinya Yudhistira akan mati dengan sempurna dan kembali pulang ke asal mulanya. Yudhistira kemudian belajar pada Sunan Kalijaga dan diajarkan syahadat sebagai pedoman kesempurnaan. Yudistira kemudian membaca berulang-ulag kalimat syahadat tersebut dan menerima kebenarannya sehingga ia meninggal sebagai seorang Islam. Yudhistira wafat dan dimakamkan di tapak tilas tempat duduknya sewaktu bertapa dibawah pohon beringin, dengan diberi tanda batu nisan dengan rekaan ciri nama Kiai Yudhistira.

Buku ini ditulis oleh Anung Tedjowirawan seorang dosen di FIB UGM jurusan Sastra Nusantara beliau telah banyak menulis karya-karya ilmiah yang termuat di berbagai surat kabar. Karya-karya ilmiah yang ditulisnya sebagian besar mengenai pujangga R.Ng Ranggawarsita karena beliau menaruh minat yang besar terhadap pujangga tersebut.

Dalam buku ini di ceritakan pula tokoh Jayabaya yang merupakan raja yang paling populer dan termashur bagi masyarakat Jawa serta menduduki tempat yang istimewa. Teks ramalan Sabda Palon Naya Genggong yang ada didalam buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia sehingga memudahkan bagi yang kurang memahami bahasa jawa. Selain itu diceritakan juga legenda Banyuwangi, pengislaman Yudisthira (Prabu Darmakusuma) oleh Sunan Kalijaga, Pandangan Sabda Palon Naya Genggong tentang keutamaan Agama Budha.

Cerita semacam sumpah Sabda Palon merupakan karya sastra. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar di masyarakat. Di sebuah wilayah sekitar Trowulan, yang diyakini sebagai salah satu situs Majapahit, tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan tokoh yang diyakini hidup pada masa Majapahit dan memiliki pekerjaan sebagai abdi dalem Keraton. Cerita-cerita babad kemudian memanfaatkan tradisi lesan yang berkembang ini, dengan meminjam nama Sabda Palon dan Naya Genggong, kemudian memberi peran baru kepada kedua tokoh ini, dan pada giliran selanjutnya diangkat dari derajatnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa. Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palon dan Naya Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Namun adapula yang menyebut bahwa Sabda : ucapan / berita / tulisan / ajaran. Palon : Semesta / alam / dunia macro cosmos dan micro cosmos. Nayagenggong : untuk kesejahtearaan, kedamaian dan kesatuan. Jadi Sabdo Palon Naya Genggong adalah bukan manusia tetapi hanya sebuah kitab.

Kisah-kisah yang ada di dalam cerita Sabda Palon tidak bisa digunakan sebagai sumber bagi kajian sejarah. Anggapan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya sastra yang memperkuat mitos bahwa Islam akan lenyap dari bumi Jawa terbukti tidak benar. Beberapa pembahasan yang dihadirkan di dalamnya banyak disemangati oleh nilai-nilai tasawuf. Meskipun demikian juga tidak dalam segala hal harus diterima sebagai karya yang Islami. Juga tidak bisa diremehkan sebagai buku yang ala kadarnya. Hanya saja mungkin, dengan menjernihkan kesalahpahaman ini maka akan tercipta sebuah dinamisasi dialogis yang lebih baik bagi Islam di Jawa.

Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon adalah salah satu buku berbahasa Jawa yang sering dengan tujuan memunculkan ruang berjarak antara Islam dan Jawa dan bukan merupakan karya yang harus dikategorikan sebagai karya sastra yang mengambil sikap menetang hukum syariat. Melainkan karya yang mampu menjembatani “kebuntuan” dan kebekuan relasi dialogis yang telah mengungkung selama sekian waktu akibat kurang mendalamnya perhatian di antara kita. Perlu diketahui naskah-naskah berbahasa Jawa yang memperlihatkan sikap menentang hukum syariat, secara nominal sebenarnya hanya minoritas saja. Hal itupun kadang tidak lepas dari pengaruh “negatif” masa Penjajahan Belanda, tercipta dari kaum yang telah terbeli tekadnya. Hanya saja jumlah yang hanya sedikit dibandingkan karya-karya yang memberikan apresiasi positif terhadap Islam ini, seringkali diangkat secara besar-besaran, sehingga kesannya apresiasi yang terakhir ini mewakili wajah Jawa. Oleh karena itu kewaspadaan hendaknya menjadi bagian dari kesadaran umat seluruhnya di Jawa.

Sumber:
Prosiding Seminar Internasional: Sabda Palon Naya Genggong dalam Naskah Nusantara oleh Anung Tedjowirawan
Sumber gambar: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2012/11/29/615/Eksistensi-Sabda-Palon



1 Comment so far

  1.    Sally on June 14, 2016 12:45 pm      Reply

    Great blog 🙂 Great posts

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind