Multikulturalisme merupakan suatu perilaku yang mengakui dan menghormati keberagaman. Keberagaman itu terdiri dari perbedaan-perbedaan sosial dan budaya. Setiap kelompok berhak untuk berkontribusi dalam suatu masyarakat. Agar tercipta keharmonisan maka perlu adanya pengakuan atas keragaman tersebut. Sikap saling menghargai perbedaan juga sangat diperlukan.

Dalam suatu negara, multikulturalisme tidak mempedulikan warna kulit, ciri-ciri fisik, atau nasional asal. Penduduk terdiri dari berbagai macam latar belakang. Semua latar belakang itu dapat melebur menjadi satu namun ada pula yang masih mempertahankannya sebagai bagian dari kekhasan masing-masing. Jika terdapat deskriminasi sangat mungkin akan terjadi perpecahan.

Multikulturalisme akan berjalan dengan baik apabila mendapat dukungan dari negara. Apabila perbedaan-perbedaan itu diakui maka akan tercipta keselarasan. Jika hak-haknya juga diakui oleh negara secara legal atau formal tidak akan lagi terjadi perselisihan. Masyarakat akan hidup dengan harmonis. Ketika kaum minoritas sudah berada di negara yang telah mengakui keberadaan dan hak-haknya, mereka akan menjadi lebih terbuka.

Multikulturalisme di berbagai negara mempunyai ciri khas atau keunikan tersendiri. Hal ini disebabkan karena tiap-tiap negara memiliki sejarah dan unsur-unsur kebudayaan yang berbeda-beda. Ada yang dalam satu negara terdiri bangsa asli dan beberapa imigran, ada pula yang dalam satu negara terdiri dari etnis yang beraneka ragam. Unsur-unsur kebudayaan tiap-tiap negara juga berbeda-beda. Oleh sebab itu masing-masing negara mempunyai penanganan tersendiri untuk persoalan multikultural ini.

Gerakan multikulturalisme muncul pertama kali di Kanada sekitar tahun 1970-an (Nanang: 2009). Gerakan ini kemudian diikuti oleh negara lainnya seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris, dan lain sebagainya. Kanada merupakan negara pertama yang memberikan pengakuan legal terhadap multikulturalisme (Sutarno: 2011). Negara ini mencoba untuk mempersatukan warga negaranya demi kemajuan bangsa agar bisa sebanding dengan negara yang lain. Ini dilakukan dengan mengikat masyarakat dengan kesatuan moral untuk mengurangi sekat-sekat budaya dan sosial antar masyarakat.

Berbeda halnya dengan di Inggris. Multikulturalisme masih jauh dari kebijakan negara. Masih terdapat deskriminasi terhadap kaum-kaum imigaran dengan berbagai latar belakang budaya yang datang ke Inggris.

Di Amerika Serikat budaya-budaya asli melebur dengan budaya imigran. Pemerintah tidak ikut campur dalam hal ini. Kebijakan ini dikenal dengan melting pot. Terdapat percampuran budaya antarbangsa. Masyarakat Amerika adalah masyarakat yang heterogen. Masyarakat yang kaya akan budaya. Banyak pula yang masih mempertahankan kekhasannya. Dalam percampuran budaya ini terdapat proses asimilasi. Ini hampir sama dengan multikulturalisme yang ada di Australia dimana terdapat pengakuan kebudayaan yang berbeda-beda dari masyarakat Australia. Para imigran mempunyai hak untuk mengekspresikan identitas budaya masing-masing.

Munculnya multikulturalisme di berbagai negara disebabkan oleh desakan dari kelompok-kelompok imigran atau kaum minoritas. Kelompok tersebut menuntut hak yang sama dengan masyarakat mayoritas. Kebijakan multikulturalisme muncul karena takut akan menimbulkan perpecahan. Golongan minoritas dalam masyarakan majemuk hampir selalu terdeskriminasi. Hak-hak mereka tidak dipedulikan. Ada yang dideskriminasi secara legal dan formal, seperti yang terjadi di negara Afrika Selatan sebelum direformasi atau pada jaman penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang di Indonesia. Ada yang didiskriminasi secara sosial dan budaya dalam bentuk kebijakan pemerintah nasional dan pemerintah setempat seperti yang terjadi di Indonesia dewasa ini (Hidayah).

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa dan budaya. Masalah yang terjadi bukanlah antar suku bangsa tetapi antarsuku bangsa atau etnis. Tiap suku bangsa atau etnis mempunyai budaya sendiri-sendiri. Ini menjadikan Indonesia sebagai masyarakat yang majemuk. Dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang luas dapat memungkinkan terjadinya perpaduan budaya yang kompleks. Perbedaan-perbedaan ini menuntut masyarakat untuk sadar terhadap perbedaan supaya tercipta kesatuan.

Perbedaan-perbedaan yang muncul menyebabkan terjadinya proses peleburan atau penyesuaian sifat asli yang dimiliki dengan sifat lingkungan sekitar. Kelompok minoritas kemudian akan menyesuaikan dengan lingkungan di sekitarnya. Akan ada proses timbal balik oleh dua budaya yang terlibat dalam sistem memberi dan menerima serta beradaptasi.

Adanya semboyan bhineka tunggal ika yang berarti meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu, Indonesia berusaha untuk menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada. Namun usaha untuk menyatukan perbedaan-perbedaan ini tampaknya belum berjalan dengan baik. Banyak kelompok-kelompok minoritas yang masih terdeskriminasi. Tidak ada kebijakan yang jelas dari pemerintah Indonesia untuk hakā€“hak formal yang seharusnya mereka dapatkan. Masyarakat sendiri juga tidak terbiasa dengan munculnya kaum minoritas ini. Ruang gerak kelompok minoritas ini menjadi terbatasi. Negara tidak mengakui keberadaannya. Mereka tidak mendapatkan hak sama dengan warga negara lain.

Multikulturalisme dalam suatu negara memang berbeda-beda. Negara juga mempunyai langkah tersendiri dalam menyikapi masyarakat multikultur ini. Kebijakan pemerintah mempunyai peranan yang penting. Apalagi untuk kaum minoritas seperti para imigran yang tinggal di negara tersebut. Mereka mempunyai latar belakang budaya sendiri dan mempunyai hak untuk mempertahankannya. Sehingga agar tidak terjadi perselisihan perlu ada sikap yang tegas dari pemerintah dan juga masyarakat itu sendiri.

Referensi:
Hidayah, Nur. Masyarakat Multikultural. Diambil dari: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/MASYARAKAT%20%20MULTIKULTURAL.pdf, tanggal: 18 November 2012.
Nanang, Martinus. 2009. Realitas Multikultural dan Wilayah Ideologis Multikulturalisme: Memadukan Peran Negara dengan Realitas Multikultural Masyarakat Indonesia. Diambil dari: http://id.scribd.com/doc/54290739/Realitas-Multikultural-dan-Wilayah-Ideologis-Multikulturalisme, tanggal: 18 November 2012.
Sutarno. 2011. Karakteristik Pendidikan Multikultural di Berbagai Negara. Diambil dari: http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Pendidikan%20Multikultural/BAC/Multikultural_UNIT%2B3.pdf, tanggal: 18 November 2012.



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind