PREFIKSASI

1. Prefiks di-
• Bahasa Sunda
Morfem dasar yang bergabung dengan prefiks di- berupa nomina, verba, dan numeralia. Fungsi prefiks di- adalah membentuk dan menunjukan verba, seperti pada:
di- + baju (nomina) dibaju ‘berpakaian’
di- + jual (verba) dibaju ‘dijual’
di- + dua (numeralia) didua ‘dimadu’
• Bahasa Jawa
Prefiks di- berfungsi sebagai pembentuk kata kerja pasif. Prefiks di- dapat dibubuhkan pada bentuk dasar yang berupa bentuk prakategorial, kata benda, kata sifat, dan kata kerja.
di- + jewer (prakategorial) dijewer ‘dijewer’
di- + sikat (nomina)disikat ‘disikat’
di- + abang (adjektiva)diabang ‘dimerahi’
di- + ombe (verba) diombe ‘diminum’
Kata kerja pasif bentuk di- dalam pemakaiannya selalu diikuti objek pelaku atau objek penderita. Kedudukannya sebagai objek penderita dimungkinkan oleh fungsi sintaksis –e yang menunjukan milik. Dalam contoh di bawah ini, montor sebagai objek pelaku dan klambine sebagai objek penderita.
ditabrak montor ‘ditabrak mobil’
dikumbah klambine ‘dicuci bajunya’

2. Prefiks ka-
• Bahasa Sunda
Morfem dasar yang bergabung dengan prefiks ka- berupa nomina, verba, adjektiva, dan numeralia, serta partikel. Fungsi prefiks ka- adalah:
a. Membentuk dan menunjukan verba, seperti pada:
ka- + gambar (nomina)  kagambar ‘terbayang, tergambar’
ka- + beuli (verba)  kabeuli ‘terbeli’
b. Menunjuk nominal, seperti pada:
ka- + sieun (adjektiva)  kasieun ‘apa-apa yang ditakuti’
ka- + bisa (modus)  kabisa ‘kemampuan’
c. Menunjukan numeralia tingkat (ordinal), seperti pada:
ka- + hiji (numeralia)  kahiji ‘kesatu’
ka- + dua (numeralia)  kadua ‘kedua’
• Bahasa Jawa
Prefiks ka- mempunyai fungsi membentuk kata kerja pasif. Prefiks ka- mempunyai kesejajaran posisi dalam proses pembentukan kata dengan prefiks di-. Prefiks ka- dan prefiks di- dapat dibubuhkan pada kata atau bentuk yang sama dengan makna yang sama pula sehingga keduanya dapat saling menggantikan kedudukannya masing-masing.
ka- + serat  kaserat ‘ditulis’
ka- + pundhut  kapundhut ‘diambil’
ka- + dhawuh  kadhawuh ‘diperintah’

3. Prefiks pa-
• Bahasa Sunda
Prefiks pa- dapat bergabung dengan morfem dasar nomina, verba, dan adjektiva, yang berfungsi sebagai berikut:
a. Membentuk dan menunjukan nomina, seperti pada:
pa- + payung (nomina)  papayung ‘yang melindungi’
pa- + tani (verba)  patani ‘petani’
pa- + manis (adjektiva)  pamanis ‘pemanis’
b. Menunjukan verba resiprokal, seperti pada:
pa- + tanya (verba)  patanya ‘saling menegur’
pa- + ketrok (verba)  paketrok ‘saling berbenturan’
pa- + cabak (verba)  pacabak ‘saling berpegangan’
c. Menunjukan adverbial, seperti pada:
pa- + jauh (numeralia)  pajauh ‘berjauhan’
pa- + deukeut (numeralia)  padeukeut ‘berdekatan’
pa- + anggang (numeralia)  paanggang ‘agak berjauhan’
• Bahasa Jawa
Prefiks pa- dapat bergabung dengan morfem dasar nomina dan verba, yang berfungsi membentuk nomina dan membentuk verba seperti pada:
pa- + warta  pawarta ‘berita’
pa- + ukum + -an  paukuman ‘hukuman’
Prefiks pa- bila diikuti oleh kata dasar yang dimulai dengan bunyi vokal sering luluh karena bunyi vokal pengaruhnya, seperti pada:
pa- + omah + -an  pomahan ‘perumahan’
pa- + angon + -an  pangonan ‘tempat gembala’

4. Prefiks pi-
• Bahasa Sunda
Prefiks pi- dapat bergabung dengan morfem dasar nomina dan verba. Prefiks pi- berfungsi:
a. Membentuk nominal, seperti pada:
pi- + welas (adjektiva)  piwelas ‘belas kasihan’
pi- + deudeuh (adjektiva)  pideudeuh ‘tanda sayang’
b. Membentuk dan menunjukan adjektival, seperti pada:
pi- + indung (nomina)  piindung ‘tidak mau jauh dari ibu’
pi- + duit (nomina)  piduit ‘mata duitan’
c. Membentuk dan menunjukan verba, seperti pada:
pi- + lampah (nomina)  pilampah ‘lakukan’
pi- + gawe (verba)  pigawe ‘kerjakan’
d. Membentuk verba, bila pi- mengalami nasalisasi menjadi mi- seperti pada:
pi- + N- + bapa (nomina)  mibapa ‘menganggap bapak’
pi- + N- + gawe (verba)  migawe ‘mengerjakan’
• Bahasa Jawa
Prefiks pi- dapat bergabung dengan morfem dasar adjektiva dan verba, yang berfungsi membentuk nomina, membentuk verba dan membentuk adjektiva seperti pada:
pi- + agem (verba)  piagem ‘pakaian’
pi- + wulang (verba)  piwulang ‘pengajaran’
pi- + ala (adjektiva)  piala ‘kejelekan’

5. Prefiks pra-
• Bahasa Sunda
Prefiks pra- dapat bergabung dengan morfem dasar nomina. Prefiks pra- berfungsi membentuk partikel dan kategori gramatikal jamak, seperti pada:
pra- + sejarah (nomina)  prasejarah ‘prasejarah’
pra- + ponggawa (nomina)  praponggawa ‘semua pengwal’
• Bahasa Jawa
Prefiks pra- mempunyai dua alomorf yaitu pra- dan pre-. Bentuk pra- dipakai dalam ragam bahasa formal sedangkan bentuk pre- dipakai dalam ragam bahasa tidak formal.
pra- + janji  prajanji ‘perjanjian’
pra- + jurit  prajurit ‘prajurit, bala’
pre- + tandha  pretandha ‘pertanda’
pre- + kasa  prekasa ‘perkasa’

6. Prefiks sa-
• Bahasa Sunda
Prefiks sa- dapat begabung dengan morfem dasar nomina dan numerlia. Prefiks ini berfungsi membentuk numeralia, seperti pada contoh berikut:
sa- + sakola (nomina)  sasakola ‘satu sekolah’
sa- + imah (nomina)  saimah ‘serumah’
• Bahasa Jawa
Prefiks sa- dipakai untuk menunjukan ukuran, yang biasanya berarti satu. Prefiks sa- mempunyai dua alomorf yaitu se- dan sak-. Se- yang biasanya ditulis sa- dipakai apabila kata dasar yang mengikutinya bersuku dua atau lebih, dan mulai dengan bunyi konsonan. Sa- biasanya dipakai dalam ragam formal, seperti:
se- + gajah  segajah ‘sebesar gajah’
se- + kilo  sekilo ‘satu kilo’
Sak- dipakai selain ketentuan diatas, yaitu antara lain apabila kata dasarnya bersuku satu, atau bersuku dua tetapi mulai dengan vokal, seperti:
sak- + mit  sakmit ‘sedikit’
sak- + nyuk  saknyuk ‘sebentar’

INFIKSASI

1. Infiks –um–
• Bahasa Sunda
Infiks –um– dapat bergabung dengan morfem dasar kelas nomina, verba, dan adjektiva. Fungsi infiks –um– antara lain:
a. Membentuk dan menunjukan verba, seperti pada:
ciduh + –um–  cumiduh ‘meludah terus’
turun + –um–  tumurun ‘diturunkan, diwariskan’
b. Membentuk dan menunjukan adjektival, seperti pada:
regang + –um–  rumegang ‘dalam keadaan seperti ranting’
haseum + –um–  humaseum ‘dalam keadaan rasa masam’
c. Membentuk partikel, seperti pada:
dadak + –um–  dumadak ‘mendadak’
seja + –um–  sumeja ‘bermaksud’
• Bahasa Jawa
Infiks –um– mempunyai dua alomorf yaitu –um– dan –em–. Infiks –um– pada umumnya disisipkan pada bentuk dasar yang berupa bentuk prakategorial, kata benda, kata keadaan atau kata sifat, dan kata kerja. Bentuk –um– dipakai dalam ragam bahasa formal dan pustaka, seperti:
tiba + –um–  tumiba ‘tejatuh’
kenthus + –um–  kumenthus ‘sombong’
gagah + –um–  gumagah ‘berlagak gagah’
Bentuk –em– dipakai dalam ragam bahasa formal dan pustaka, seperti:
raket + –em–  remaket ‘erat’
rujak + –em–  remujak ‘baik untuk rujak’
cepak + –em– cemepak ‘tersedia’

2. Infiks –in–
• Bahasa Sunda
Infiks –in– dapat bergabung dengan morfem dasar kelas nomina, verba, dan partikel (modalitas). Fungsi infiks –in– antara lain:
a. Membentuk verba, seperti pada:
serat + –in–  sinerat ‘ditulis’
ganjar + –in–  ginanjar ‘dikaruniai’
b. Membentuk dan menunjukan adjektival, seperti pada:
sastria + –in–  sinatria ‘memiliki sifat kesatria’
pandita + –in–  pinandita ‘memiliki sifat pendeta’
c. Membentuk partikel, seperti pada:
tangtu + –in–  tinangtu ‘ditentukan’
tangtos + –in–  tinangtos ‘ditentukan (halus)’
Infiks berubah posisinya diawal morfem dasar jika morfem dasarnya diawali dengan vokal, misalmnya:
uber + -al-  aluber ‘sama-sama mengejar’
• Bahasa Jawa
Infiks –in– mempunyai dua alomorf yaitu –in– dan –ing–. Infiks –in– dapat disisipkan pada bentuk dasar yang berupa bentuk prakategorial, kata benda, kata sifat, dan kata kerja. Fungsi gramatikal infiks –in– adalah mengubah bentuk dasar menjadi kata kerja pasif.
Infiks ini biasanya disisipkan pada suku kata pertama dari kata dasar, diantara konsonan awal dan vokal yang mengikutinya. –in– itu berbentuk –ing– apabila kata dasar mulai dengan bentuk vokal, seperti:
apura + –ing–  ingapura ‘dimaafkan’
undur + –ing–  ingundur ‘diundur’
Sedangkan alomorf –in– dipakai apabila kata dasar mulai dengan konsonan, seperti:
tinggal (prakategorial) + –in–  tininggal ‘ditinggal’
sapu (nomina) + –in–  sinapu ‘disapu’
rusak (adjektiva) + –in–  rinusak ‘dirusak’
tuku (verba) + –in–  tinuku ‘dibeli’

SUFIKSASI

1. Sufiks –an
• Bahasa Sunda
Sufiks –an dapat bergabung dengan morfem dasar kelas nomina, verba, adjektiva, dan numeralia. Fungsi sufiks –an adalah sebagai berikut:
a. Membentuk nomina, seperti pada:
ukur + –an  ukuran ‘ukuran’
atah + –an  atahan ‘mentahnya’
b. Membentuk dan menunjukan verba, seperti pada:
wadah + –an  wadahan ‘pakai wadah’
tunggu + –an  tungguan ‘tunggu terus’
c. Menunjuk adjektiva dengan makna komparatif seperti pada:
pinter + –an  pinteran ‘lebih pandai’
sieun + –an  sieunan ‘penakut’
selain makna komparatif, adjektiva + –an menunjukan sifat yang dimiliki.
d. Menunjukan numeralia jumlah, seperti pada:
tilu + –an  tiluan ‘bertiga’
dua + –an  duaan ‘berdua’
• Bahasa Jawa
Sufiks –an dapat dibubuhkan pada bentuk dasar yang berupa bentuk prakategorial, kata benda, kata keadaan atau kata sifat, dan kata kerja. Sufiks –an berfungsi mengubah bentuk dasar menjadi kata kerja aktif. Sufiks –an dipakai baik apabila kata dasar yang mengikutinya berakhir dengan konsonan maupun vokal, seperti:
jangan (nomina) + –an  janganan ‘sayuran’
dolan (verba) + –an  dolanan ‘permainan’
srudug (prakategorial) + –an  srudugan ‘saling menyeruduk’
gering (adjektiva) + –an  geringan ‘mudah sakit’
Apabila kata dasar itu berakhir dengan vokal, maka terjadilah peluluhan, seperti:
klambi + –an  klamben ‘berbaju’
loro + –an  loron ‘mendua’

2. Sufiks –i
• Bahasa Sunda
Sufiks –i muncul dalam kombinasi afiks, antara lain dengan prefiks nga- + (morfem dasar dengan dwipurwa) + –i, dan berfungsi membentuk verba, seperti pada contoh berikut:
leuwih + –i  ngaleuleuwihi ‘melebihi’
bisa + –i  ngabibisai ‘ menyalahkan’ (karena dianggap tidak mampu)
dapat juga kombinasi afiks ka- + dwipurwa + –i seperti pada kaleuleuwihi ‘keterlaluan’. Pemakaian sufiks –i ini terbatas dan tidak produktif lagi.
• Bahasa Jawa
Sufiks –i mempunyai fungsi sebagai pembentuk kata kerja. Kata kerja bentuk –i menjadikan objeknya sebagai arah atau tempat berlangsungnya pekerjaan, jadi objek kata kerja bentuk –i itu berada dalam keadaan diam. Sufiks –i mempunyai dua bentuk yaitu –i dan –ni. –i dipakai apabila kata dasar yang diikutinya berakhir dengan konsonan, seperti:
njupuk + –i  njupuki ‘mengambil’
ngantem + –i  ngantemi ‘memukuli’
Bentuk ni- dipakai apabila kata dasar yang mengikutinya berakhir dengan vokal, seperti:
nyusu + –i  nyusuni ‘menyusui’
mara + –i  marani ‘mendatangi’

DAFTAR PUSTAKA

Djajasudarma, T. Fatimah, dkk. 1994. Tata Bahasa Acuan Bahasa Sunda. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Poedjosoedarmo, Soepomo, dkk. 1979. Morfologi Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudaryat, Yayat. 1991. Pedaran Basa Sunda. Bandung: CV Geger Sunten.
Suwadji. 1986. Morfosintaksis Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



4 Comments so far

  1.    free twitter followers on February 16, 2016 9:45 pm      Reply

    Thank you for your blog post. Will read on…

  2.    landscaping ideas for small spaces on February 17, 2016 2:16 am      Reply

    Im grateful for the blog post. Really Great.

  3.    rental yield calculation on February 17, 2016 7:30 am      Reply

    Great, thanks for sharing this blog article.Really thank you! Cool.

  4.    binary options on December 1, 2016 7:55 pm      Reply

    Suwadji. 1986. Morfosintaksis Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind