Apa itu Semiotika?

December 2, 2014 | 2 Comments

Semiotika sudah muncul pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Teori dan metode semiotika tidak dapat dipisahkan dari teori strukturalisme. Semiotika, ilmu tentang tanda-tanda, mempelajari fenomena sosial-budaya, termasuk sastra sebagai sistem tanda (Preminger, 1997:980 via Djoko Pradopo, 1999:76).

Tanda mempunyai dua aspek, yaitu penanda (signifiér, signifiant) dan petanda (signified, signifié). Petanda adalah bentuk formal tanda itu, dalam bahasa berupa satuan bunyi atau huruf dalam sastra tulis, sedangkan petanda adalah artinya, yaitu apa yang ditandai oleh penandanya itu.

Berdasarkan hubungan antara penanda dan petanda dan petandanya ada tiga jenis tanda yaitu ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukkan ada hubungan yang bersifat alamiah, yaitu penanda sama dengan petandanya. Indeks adalah tanda yang penanda dan petandanya menunjukan adanya hubungan alamiah yang bersifat kausalitas. Simbol adalah tanda yang penanda dan petandanya tidak menunjukan adanya hubungan alamiah; hubungan arbitrer (semau-maunya berdasarkan konvensi). Ada juga tanda yang disebut simtom (gejala) yaitu penanda yang penunjukannya (petandanya) belum pasti.

Metode semiotik dalam pemaknaan sastra berupa pencarian tanda-tanda yang penting sebab keseluruhan sastra itu merupakan tanda-tanda, baik berupa ikon, indeks, atau simbol. Disamping itu karena tanda-tanda itu mempunyai makna berdasarkan konvensi, memberi makna itu mencari konvensi-konvensi apa yang menyebabkan tanda-tanda itu mempunyai arti atau makana.

Dalam lapangan semiotika, ada dua sistem semiotik yaitu sistem semiotik tingkat pertama (first order semiotics) dan semiotik tingkat kedua (second order semiotics). Sebelum menjadi karya sastra, bahasa sudah merupakan tanda yang mempunyai arti (meaning). Oleh karena itu bahasa disebut sistem semiotik tingkat pertama yang kemudian menjadi tanda sastra ditingkatkan menjadi sistem semiotik tingkat kedua.

Ada empat hal yang harus diperhatikan dalam pemaknaan sastra yaitu puisi itu ekspresi tidak langsung, pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif atau hermeneutik, matriks, model, dan varian-varian, dan juga hipogram (Riffaterre, 1978:13, 14-15 via Djoko Pradopo, 1999:77).

a. Puisi itu ekspresi tidak langsung
Puisi itu ekspresi tidak langsung menyatakan suatu hal dengan arti yang lain. Ekspresi tidak langsung disebabkan oleh:
• Penggantian arti (displacing of meaning)
Penggantian arti (displacing of meaning) disebabkan oleh metafora dan metonimi (Riffaterre, 1978:2 via Djoko Pradopo, 1999:78) yaitu bahasa kiasan pada umumnya yaitu simile (perbandingan), metafora, personifikasi, sinekdoki, dan metonimi. Misalnya dalam sajak Dewa Telah Mati karya Subagio Sastrowardojo yang banyak mempergunakan metafora. Dewa mengganti Tuhan, rawa-rawa mengganti tempat yang tidak baik, tempat terjadinya kejahatan, dan gagak adalah metafora untuk orang jahat.
• Penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning)
Penyimpangan atau pemencongan arti (distorting of meaning) disebabkan oleh ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense (Riffaterre, 1978:2 via Djoko Pradopo, 1999:79). Ambiguitas disebabkan oleh penggunaan kata-kata, frase, kalimat, atau wacana yang taksa atau ambigu yaitu mempunyai makna yang lebih dari satu, dapat ditafsirkan bermacam-macam menurut konteksnya. Kontradiksi disebabkan oleh penggunaan ironi, paradoks, dan antitesis. Ironi menyatakan sesuatu secara kebalikan, biasanya untuk mengejek atau memperolok. Nonsense adalah “kata-kata” yang tidak mempunyai arti, yang tidak ada dalam kamus tetapi mempunyai makna gaib atau juga mempunyai makna lain sesuai dengan konteksnya. Nonsense ini berupa deretan bunyi tanpa arti, banyak terdapat dalam mantra atau sajak bergaya mantra. Misalnya sajak Sutardji Calzoem Bachri yang berjudul “Tragedi Winka dan Sihka”, “winka” dan “sihka” itu nonsense dari kata kawin dan kasih. Perkawinan yang penuh kasih pada mulanya penuh dengan kebahagiaan, tetapi melalui jalan hidup yang berliku-liku dapat berbalik menjadi tragedi “winka” dan “sihka” yaitu perceraian karena dendam dan kebencian.
• Penciptaan arti (creating of meaning)
Penciptaan arti (creating of meaning) disebabkan oleh pengorganisasian ruang teks, diantaranya enjambement, sajak, tipografi, dan homologue. Enjambement yaitu peloncatan baris dalam sajak, membuat intensitas arti atau perhatian pada kata akhir atau kata “yang diloncatkan” ke baris berikutnya. Sajak menimbulkan intensitas arti dan makna liris, pencurahan perasaan pada sajak yang berpola sajak itu. Tipografi adalah tata huruf. Tata huruf ini dalam teks biasa tidak ada artinya, tetapi dalam sajak dapat menciptakan makna. Homologue adalah persejajaran bentuk atau persejajaran baris. Bentuk yang sejajar itu menimbulkan makna yang sama.

b. Pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif atau hermeneutik
Pertama kali sajak dibaca secara heutristik yaitu dibaca berdasarkan tata bahasa normatif, morfologi, semantik, dan sintaksis. Pembacaan ini menghasilkan arti (meaning) sajak secara keseluruhan menurut tata bahasa normatif sesuai dengan sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan ini belum memberikan makna sajak atau makna sastra (significance), oleh karena itu karya sastra (sajak, fiksi) harus dibaca ulang (retroaktif) dengan memberikan tafsiran (hermeneutik) (Riffaterre, 1978:5-6 via Djoko Pradopo, 1999:77). Pembacaan hermeneutik merupakan pembacaan menurut sistem semiotik tingkat kedua. Ringkasan sebuah cerita pada karya sastra seperti novel misalnya, merupakan hasil pembacaan heuristik, sedangkan pembacaan hermeneutik berupa penafsiran terhadap kiasan-kiasan, analisis struktur, dan eksplisitasi hubungan antar unsur strukturnya.

c. Matriks, model, dan varian-varian
Untuk memperjelas dan mendapatkan makna sajak (karya sastra) lebih lanjut dicari tema dan masalahnya dengan mencari matriks, model, dan varian-variannya (Riffaterre, 1978:13, 19-21 via Djoko Pradopo, 1999:77). Matriks harus diabstraksikan dari sajak atau karya sastra yang dibahas. Matriks adalah kunci (keyword) dapat berupa satu kata, gabungan kata, bagian kalimat, atau kalimat sederhana. Matriks ini mengarah pada tema, dengan ditemukannya matriks maka akan ditemukan pula temanya. Matriks itu sebagai “hipogram” intern yang ditransformasikan ke dalam (menjadi) model yang berupa kiasan. Matriks dan model ditransformasikan menjadi “varian-varian”. Varian ini merupakan transformasi model pada setiap satuan tanda, baris atau bait. Misalnya pada novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, matriksnya adalah “perempuan blasteran yang hidup menderita”. Matriks ini kemudian di transformasikan menjadi model: “bekisar merah”. Matriks dan model itu ditransformasikan menjadi varian-varian yang berupa episode-episode atau alur cerita Bekisar Merah. Varian-varian tersebut yaitu episode kehidupan Lasi di Karangsoga, Jakarta, rumah bu Lanting, dan rumah pak Handarbeni. Berdasarkan matriks, model, dan varian-varian itu dapat diabstraksikan tema Bekisar Merah. Seorang wanita Indo yang mengalami hidup menderita karena dianggap barang dagangan yang diperjual-belikan.

d. Hipogram
Seringkali sajak itu (karya sastra) merupakan transformasi dari teks lain (teks sebelumnya) yang merupakan hipogramnya, yaitu teks yang menjadi latar belakang penciptaannya. Sebuah sajak (karya sastra) itu merupakan respon terhadap karya sastra lain. Respon (jawaban, tanggapan) ini dapat berupa penentangan atau penerusan tradisi atau dapat berupa, baik penentangan dan penerusan tradisi. Hipogram merupakan latar penciptaan karya sastra. Latar penciptaan ini dapat berupa masyarakat, peristiwa dalam sejarah, atau alam dan kehidupan. Dengan adanya hipogram itu, pemaknaan membuat makna karya sastra menjadi lebih penuh, maka dilakukan analisis metode intertekstual dengan “menjajarkan” karya sastra yang dimaknai dengan karya sastra lain yang menjadi hipogamnya. Hipogram dari novel Bekisar Merah karya Ahmad Tohari adalah episode atau peristiwa pernikahan Bung Karno, presiden Republik Indonesia pertama dengan Ratnasari Dewi, seorang wanita turunan Jepang, yang kemudian melahirkan seorang wanita Kartika.

Daftar pustaka:
Christomy, Tommy dan Untung Yuwono. 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.

Djoko Pradopo, Rachmat. 1999. Semiotika:Teori, Metode, dan Penerapannya dalam Pemaknaan Sastra. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Uniawati. 2007. Mantra Melaut Suku Bajo:Iinterpretasi Semiotik Riffaterre. Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang.

van Zoest, Aart. 1993. Semiotika:Tentang Tanda, Cara Kerjanya,dan Apa yang Kita Lakukan dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung. Penerj. Ani Soekowati (1978).



2 Comments so far

  1.    for details on February 17, 2016 7:59 pm      Reply

    Very informative blog. Cool.

  2.    grooms on February 18, 2016 12:31 am      Reply

    This is one awesome blog post.Really thank you!

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind