Bangsa Indonesia terdiri dari bermacam-macam suku bangsa atau kelompok etnis yang tersebar di daerah-daerah seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tiap-tiap kelompok etnis mempunyai bahasa daerah masing-masing yang digunakan dalam komunikasi intraetnis (sesama suku). Bahasa-bahasa daerah ini merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang bersangkutan, jumlahnya sekitar 418 sampai 700 bahasa. Bahasa-bahasa ini serumpun dan termasuk ke dalam rumpun Austronesia.

Sebagian bahasa nusantara yang kecil-kecil sudah punah, sedangkan bahasa daerah yang didukung oleh jumlah penutur yang besar dan mempunyai sejarah budaya yang cukup tua, bahasa-bahasa itu masih tetap terpakai. Bahasa yang masih tetap terpakai itu diantaranya bahasa nusantara seperti Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Bugis/Makasar, Minangkabau, Batak Bali, Aceh, dan Sasak. Wilayah penggunaan bahasa daerah ini sesuai dengan daerahnya masing-masing dan lokasi orang-orang daerah itu berasal serta bertempat tinggal.

Bahasa daerah dalam kehidupan serta kontak sehari-hari yang tidak resmi memiliki fungsi dan kedudukan yang amat penting disamping bahasa Indonesia. Bahasa daerah dipakai oleh anggota masyarakat seetnis sedangkan bahasa Indonesia dipakai untuk berkomunikasi antaretnis. Penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia ini sesuai dengan situasi.

Bahasa daerah digunakan dalam komunikasi informal seperti dalam lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, dan dalam situasi tidak formal, sementara bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa pemersatu dalam situasi formal misalnya lingkungan kerja. Bahasa daerah berfungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah. Fungsi bahasa daerah dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia yaitu sebagai pendukung bahasa nasional, bahasa pengantar disekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain, serta sebagai alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah.

Sebagai alat perhubungan dalam keluarga, bahasa daerah terpakai dalam media komunikasi antaranggota keluarga baik lisan maupun tulis. Penggunaan bahasa daerah ini dimaksudkan agar lahir emosi dan rasa hubungan pertalian dari hati ke hati seperti kasih sayang, mesra, gembira, dan sedih dapat diekspresikan. Namun sekarang sudah mulai banyak keluarga yang berusaha memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dirumah dan dalam pergaulan.

Sebagai bahasa pengantar di sekolah di daerah tertentu, bahasa daerah terpakai sebagai media komunikasi antara guru dengan murid terbatas pada TK sampai SD kelas III. Pada sekolah tingkat SLTP, bahasa daerah tidak dipakai sebagai media komunikasi lagi tetapi diajarkan sebagai bahan mata pelajaran. Di SMA bahasa daerah diajarkan sebagai mata pelajaran pilihan. Di perguruan tinggi pada jurusan Sastra Nusantara diajarkan sebagai bahan mata kuliah. Bahasa Indonesia menjadi pengantar untuk seluruh mata pelajaran, sedangkan bahasa daerah yang dalam kehidupan sehari-hari berdampingan dengan bahasa Indonesia itu dialihkan menjadi salah satu pelajaran sekedar untuk meningkatkan pengetahuan serta kemampuan mereka membaca, memahami dan menikmati cerita-cerita yang tertulis dalam bahasa daerah dan secara lebih sadar membedakannya dari bahasa Indonesia.

Sebagai alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah, bahasa daerah terpakai sebagai media komunikasi dalam lingkup budaya tradisional, misalnya dalam pentas upacara-upacara tradisional dan seni tradisional misalnya dalam seni sastra tradisional baik lisan maupun tulis, seni tembang tradisional baik lisan maupun tulis dan iringan seni tradisional terutama lisan.
Sebagai alat perhubungan dalam masyarakat bahasa daerah dipakai oleh antar anggota masyarakat seetnis dalam hubungan dinas pekerjaan, bisnis jual beli, penerangan oleh pamong praja, dan penyuluahan di desa-desa, serta khotbah oleh para ustad atau penerang agama.

Sedangkan dalam kesenian di seluruh kepulauan ini telah timbul pengarang-pengarang dari segala suku bangsa yang mengucapkan perasaan yang sehalus-halusnya dalam bahasa Indonesia. Proses ini akan terus menerus telah dipastikan dalam waktu yang tidak jauh lagi banyak diantara bahasa-bahasa yang kecil-kecil di Indonesia ini akan lenyap. Sesungguhnya di kalangan kaum ahli-ahli bahasa terdengar kecemasan tentang hal ini, yaitu apabila bahasa yang kecil-kecil yang banyak jumlahnya tidak diselidiki dan hasil penyelidikan itu tidak segera dituliskan, maka mungkin dalam waktu yang tidak jauh lagi bahasa-bahasa itu tidak dapat dipelajari lagi karena lenyap atau tidak murni lagi karena tumbuhnya bahasa Indonesia yang amat cepat masuk ke daerah-daerah dengan perantara sekolah, surat kabar, dan buku.

Bahasa pergaulan antara golongan yang tidak mempunyai bahasa yang sama baik dalam lingkungan kepulauan maupun dalam perhubungan dengan dunia internasional kemudian tumbuh menjadi bahasa resmi yaitu bahasa Indonesia, mempunyai lingkungan sendiri yaitu lingkungan orang-orang yang kedudukannya dan pekerjaannya dalam ekonomi, politik, agama. Bahasa pergaulan antara suku dan antara bangsa itu misalnya bahasa perdagangan yang berpusat di pelabuhan, bahasa diplomasi yang dipakai dalam perundingan, bahasa penyebaran agama. Di sisi lain tiap-tiap suku mempunyai bahasa sendiri-sendiri, sebagai penjelmaan jiwa dan pikiran, atau sebagai penjelmaan kebudayaan suku bangsa itu.

Bahasa dan kesusastraan daerah itu akan hidup dalam suasana kebudayaan daerah yang lama sedangkan bahasa dan kesusastraan Indonesia aka hidup dalam suasana baru. Kedudukannya tidak akan banyak bergeser atau bersaing. Dr. zoetmulder dalam karangannya tentang bahasa Jawa, menyatakan bahwa pemeliharaan bahasa Jawa perlu untuk mempertahakan kebudayaan Jawa, karena kebudayaan Jawa sangat erat hubungannya dengan bahasa Jawa.

Apabila kebudayaan Indonesia lama tidak dapat mempertahankan dirinya di tengah-tengah Indonesia modern, maka bahasa daerah sebagai satu bagian dari kebudayaan daerah atau kebudayaan lama itu, tidak akan dapat mempertahankan dirinya. Hal itu mulai kelihatan ketika bahasa Indonesia menduduki lapangan politik dan ekonomi yang baru yang tidak sesuai dengan isi dan suasana kebudayaan daerah yang lama yang bersifat feodal dan mempunyai ekonomi yang tertutup. Kedudukan bahasa Indonesia dalam ilmu modern dapat mendesak kebudayaan yang lama.

Mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang berdwibahasa, yaitu dalam berkomunikasi disamping menggunakan bahasa Indonesia juga menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Penggunaan masing-masing bahasa itu ditentukan oleh situasinya. Setelah proklamasi baik secara legal formal maupun faktual, yang dipakai sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara adalah bahasa Indonesia, bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai oleh rakyat daerah yang bersangkutan tetap dihormati dan dipelihara oleh Negara seperti tercantum dalam UUD 1945 Pasal 36, dinyatakan bahwa Negara menghargai dam memelihara bahasa-bahasa daerah yang masih dipakai sebagai alat penghubung dan dibina oleh masyarakat pemakainya karena bahasa-bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang masih hidup. Setiap daerah disamping menggunakan bahasa Indonesia bagi situasi-situasi tertentu tetap menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibunya bagi situasi-situasi lain.

Kelompok orang yang berdwibahasa memperlihatkan variasi perbedaan-perbedaan halus yang banyak sekali karena taraf serta sifat kedwibahasaan yang menyangkut individu, tergantung dari berbagai faktor sesuai dengan keadaan dirumah, pekerjaan atau tugas, profesi, taraf intelek, dan sikap emosional terhadap kedua bahasa itu secara terpisah dan dengan baik menurut ukuran standar. Dalam berbicara, dwibahasawan tidak langsung beralih dari bahasa satu ke bahasa yang lain tetapi dengan merubah gaya misalnya dari kolokial ke formal atau ke teknis. Dwibahasawan lebih mudah beralih kepada bahasa lain daripada berubah gaya dalam bahasa yang sama. Misalnya orang Jawa lebih mudh beralih dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia daripada ngoko ke krama.

Bahasa daerah berkedudukan sebagai bahasa low sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa high. Penggunaan bahasa low dan high ini menyangkut prestise yang menyebabkan orang hanya mengganggap bahasa high yang terbaik sebagai ukuran tertinggi bagi kedudukan sosial seseorang. Kenyataan dan realitas bahasa high mempunyai kepercayaan bahwa bagaimanapun juga bahasa high itu lebih indah, lebih mampu, dan lebih logis guna menyatakan pikiran-pikiran penting. Karena alasan itulah lambat laun bahasa daerah mulai terdesak oleh bahasa Indonesia.

Sejak bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi, ruang lingkup bahasa Indonesia semakin luas, yang pemakaiannya meliputi segala bidang kemasyarakatan yang diperlukan bagi pembentukan manusia indonesi baru untuk dapat menempati segala jabatan mulai dari tingkatan terendah hingga tertinggi. Banyak orang tua yang mengajarkan anak-anaknya sejak dari lahir menggunakan bahasa Indonesia.

Jika kita terima kedudukan bahasa daerah sebagai bahasa kebudayaan daerah dan kebudayaan lama, maka kita harus menerima kemunduran bahasa daerah di lapangan perkembangan ilmu, teknik dan ekomomi yaitu pertumbuhan kebudayaan modern di Indonesia. Sebelum perang dunia tiga, bahasa Jawa, Sunda, dan Madura masih dipakai dalam majalah dan buku, malahan selalu diusahakan menterjemahkan aturan dan undang-undang yang penting ke dalam bahasa-bahasa itu. Sekarang sebagian besar dari kehidupan umum itu telah diduduki oleh bahasa Indonesia, jumlah buku, majalah dan surat kabar yang terbit nyata benar banyak berkurang, sedangkan majalah,buku dan surat kabar yang terbit dalam bahasa Indonesia bukan saja kwantitatif tetapi kwalitatifpun banyak majunya sesudah Indonesia merdeka. Dalam sekolahpun kelihatan kepada ketiga bahasa yang besar itu mundur kedududkannya. Sebelum perang ketiga bahasa itu menjadi bahasa pengantar pada seluruh sekolah rakyat selain itu terdapat pula sekolah menengah dan normal yang sepenuhnya memakai bahasa tersebut sebagai bahasa pengantar. Sesudah perang ketiga bahasa itu hanya dipakai sebagai bahasa pengantar pada ketiga kelas yang pertama disekolah rakyat, sedangkan selanjutnya bahasa Indonesialah yang menjadi bahasa pengantar.

Bahasa daerah yang menguasai kehidupan sehari-hari itu baik dalam lingkungan keluarga, teman-teman akrab maupun ditempat umum, bahasanya tidak akan banyak dipengaruhi oleh bahasa Indonesia tetapi di kota-kota tempat pergaulan intensif antar kelompok sosial yang beraneka bahasanya tentu menunjukan banyak interferensi dengan bahasa Indonesia. Ketegangan-ketegangan yang timbul dalam situasi komunikasi (konversasi dan korespondensi) menyebabkan timbulnya diglosia bahasa atau bahasa campuran.
Beberapa faktor yang menyebabkan mengapa bahasa Indonesia mudah sekali menyusup dalam bahasa Jawa adalah:
1. Kebanyakan orang Jawa tidak sulit untuk belajar bahasa Indonesia karena adanya persamaan yang begitu besar dalam bentuk, kalimat, dan bunyinya.
2. Penyebaran bahasa Indonesia yang makin intensif, makin meningkat arti dan prestise bahasa Indonesia dalam kehidupan nasional, dalam hubungan internasional dan kontak formal, makin menarik pula belajar bahasa Indonesia.
3. Sifat bahasa daerah yang demokratis, tidak mengenal derajat tinggi dan rendah.
Pemakaian bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah ditentukan pula oleh situasi, formal ataupun tidak formal. Misalnya bahasa Palembang yang merupakan bahasa daerah yang hidup dan dipakai oleh penutur-penutur bahasa Palembang untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Dalam bahasa Palembang juga tercermin bahasa daerah. Masyarakat Palembang lebih suka memakai bahasa daerahnya untuk menjelmakan rasa kekeluargaan diantara mereka, terutama dalam komunikasi lisan intraetnis yang informal. Untuk komunikasi antar etnis (berlainan suku), lebih banyak dipakai bahasa Indonesia.

Daftar pustaka
Alisjahbana, S. Takdir. 1954. Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah. Djakarta: Pustaka Rakjat N.V.

Arif, R.M., dkk. 1981. Kedudukan dan fungsi bahasa Palembang. Jakarta: Pusat Pembinaan da Pengembangan Bahasa.

Marsono. 2011. Morfologi Bahasa Indonesia dan Nusantara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wojowarsito, S. 1984. “Fungsi dan Kedudukan Bahasa Daerah” dalam Politik Bahasa Nasional 2. (Ed. Amran Halim). Jakarta: Balai Pustaka.

http://www.antaranews.com/berita/1288035306/warga-babel-lestarikan-bahasa-daerah



Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind