Geguritan

December 2, 2014 | 1 Comment

Geguritan adalah sajak yang menggunakan medium bahasa Jawa. Geguritan berbeda dengan tembang yang merupakan puisi yang dinyanyikan dan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang tidak dapat diubah, berupa guru lagu dan guru wilangan. Geguritan adalah jenis puisi Jawa yang tidak dinyanyikan dan berdasarkan aturan yang ketat, akan tetapi karena geguritan merupakan jenis puisi maka tidak terlepas dari sifat hakikat puisi pada umumnya. Geguritan menghendaki adanya kepadatan ucapan, hanya inti masalah, gagasan, atau pikiran yang dikemukakan, mementingkan adanya irama dan sarana-sarana kepuitisan lain berdasarkan konvensi puisi untuk jaringan kepuitisan.

Geguritan mengucapkan sesuatu pikiran, ide, atau gagasan secara tidak langsung (Ragil Putra, 1991: 5). Karya-karya sastra (geguritan) mengandung unsur-unsur nilai estetis, terdapat sifat-sifat atau kualitas estetik yang menyangkut pemilihan kata yang tepat, menimbulkan imajinasi estetik yang kuat, berirama, dengan kiasan-kiasan yang hidup dan segar, dengan bahasa yang menggugah menimbulkan perasaan dan pemikiran yang dalam, mengandung daya ekspresi yang kuat.

Daftar Pustaka:
Djoko Pradopo, Rachmat. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Edy Nugroho, Yusro. 2009. Estetika Jawa. Diambil dari :
http://estetikajawa.blogspot.com/2009/02/7-geguritan.html

Ragil Putra, Turio, dkk. 1991. Antologi Geguritan dan Crita Cekak. Yogyakarta: Taman Budaya Yogyakarta



1 Comment so far

  1.    lagu jepang on April 10, 2017 2:30 pm      Reply

    Dulu pernah diajari geguritan waktu kelas bahasa jawa.

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind